
Tanggal 27 Juli merupakan salah satu hari yang diera reformasi mempunyai nilai momentum tersendiri, sebagaimana halnya 17 Agustus, ataupun tanggal-tanggal peristiwa penting lainnya bagi perjalanan bangsa dan negara Indonesia, tanggal 27 Juli kini menjadi salah satu hari yang selalu diperingati setiap tahunnya, yakni yang dikenal sebagai peringatan KUDA TULI (Kerusuhan Dua Tujuh Juli).
Pada 27 Juli 2019, bertempat di Aula Lt. 8 Kantor Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Jl. Kramat Raya No. 164 Jakarta Pusat, berkumpul sejumlah tokoh penggiat kebhinekaan ataupun lintas agama, sebut saja hadir Ketua Dewan Pertimbangan Presiden Prof. Dr. Sri Adiningsih, M.Sc, Ketua Umum MPH PGI Pdt. Dr. Henriette Lebang, Ketua PB NU KH. Dr. H. Marsudi Syuhud, Ketua PGPI Pdt. Dr. Mulyadi Sulaeman, sejumlah tokoh muda lintas agama (Islam, Katolik, Bahai, Singh, Konghucu), anggota DPR RI Budiman Sudjatmiko, mantan Komisioner KOMNASHAM Johnny Nelson Simanjuntak, SH, Pdt. Ir. Suyapto Tandyawisesa, M.Th, Nia Sjarifudin Sekjen ANBTI, Pdt. Robinson Nainggolan (Sinode GBI), Sekretaris Umum MUKI Pdt. Mawardin Zega, jajaran fungsionaris PERWAMKI (Perkumpulan Wartawan Media Kristiani Indonesia), dan puluhan tokoh lainnya.
Sekalipun dihadiri Budiman Sudjatmiko, mantan Ketua Umum Partai Rakyat Demokratik (PRD), yang pada saat kerusuhan 27 Juli 1996, oleh penguasa Orde Baru diklaim sebagai orang yang bertanggung jawab, berkumpulnya para tokoh kemarin di PB NU, tidak dalam konteks memperingati ataupun membicarakan secara khusus terkait peristiwa 27 Juli.
Pada Sabtu, 27 Juli 2019, ICRP (Indonesian Conference on Religion and Peace) bersama Altheras Publishing, mengadakan Diskusi Reflektif Peran Agama Ditengah Kondisi Bangsa. Diskusi yang dipandu oleh mantan Direktur Ma’arif Institute, Raja Juli Antoni, menghadirkan narasumber dari kalangan muda, diantaranya Nafidah I. Huda (PW GPII Jakarta Raya), Riaz Muzaffar (Pemuda Baha’i), Nico (Pemuda Katolik), Yugi Yunardi (Ketum DPN Paling), dan Budiman Sujatmiko (Komisi II DPR RI).
Diskusi reflektif diadakan sebagai pengantar acara peluncuran buku mengenai Pdt. Gomar Gultom, M.Th, berjudul “Bersyukur Dalam Karya, Pdt. Gomar Gultom Di Hati Keluarga & Sahabat – Festschrift Menapaki Usia 60 Tahun & 33 Tahun Kependetaan”. Buku setebal 400 halaman, berisikan kumpulan tulisan Pdt. Gomar selama menjalankan kependetaannya. Buku yang dikerjakan oleh Tim Kerja yang dipimpin Dr. David Tobing, seorang pengacara publik, melibatkan aktivis-aktivis muda kebhinekaan, seperti Ahmad Nurcholish, dan Frangky Tampubolon. Peluncuran buku, dihadiri juga oleh Keluarga Besar Pdt Gomar Gultom, seperti istri terkasih dr. Loli J. Simanjuntak, Sp.PD, Ibu mertua, anak-menantu dan cucu, adik kandung dr. Hernalom Gultom dan istri, dan juga banyak kerabat serta rekan sesama pendeta.
Prof. Dr. Sri Adiningsih yang hadir sebagai sahabat Pdt. Gomar Gultom, dalam kata sambutannya mengemukakan, bahwa seorang Gomar Gultom tidak hanya sekedar seorang pendeta, tetapi juga seorang tokoh agama yang berkiprah tidak hanya skala nasional, tetapi juga internasional, dan berkecimpung dibanyak lembaga/organisasi, selain PGI, sebut saja ICRP, ANBTI, FUKRI, dan lain sebagainya.
Figur Pdt. Gomar yang tidak hanya berguna bagi gereja tetapi juga masyarakat, diamini Ketua Umum PGI Pdt. Dr. Henriette T. Hutabarat-Lebang. “Dalam buku ini sangat jelas bagaimana Pdt. Gomar dikenal oleh semua kalangan sebagai sosok yang tidak hanya memikirkan kepentingan gereja, tetapi juga kehidupan kebangsaan, dan kemajemukan di Indonesia. Kehadirannya menjadi simbol tidak hanya untuk gereja, tapi lintas iman, yang saat ini membutuhkan kerjasama dan bergandengan tangan dalam menghadapi tantangan yang ada. Buku ini bagi saya juga menekankan aspek relasi yang sangat penting dalam membangun bangsa,” ujar Ketum PGI saat menyampaikan sambutan.
KH. Marsudi Syuhud. Dalam buku ini, Marsudi menilai Pdt. Gomar telah menunjukkan betapa pentingnya kebersamaan yang intens, dan duduk bersama membicarakan solusi bersama, serta menunjukkan fungsinya menjadi kekuatan yang menyejukkan. Selain itu, sebagai pendeta yang tidak hanya mengurusi ibadah kekristenan saja, tapi sangat intens dalam menjalankan ibadah sosial sebagai penjaga moral bangsa.
Pdt. Gomar Gultom yang tampil bersama istri, dr. Loli J. Simanjuntak, Sp.PD, mengenakan pakaian bermotif batik dengan sentuhan nuansa warna hijau, mengemukakan kisah riwayat hidupnya dibalik tanggal 27 Juli. Selain peristiwa KUDA TULI, 27 Juli menjadi momen penting dalam kehidupan seorang Pdt. Gomar Gultom, karena pada 27 Juli 1986 dirinya ditahbiskan menjadi Pendeta pada Gereja HKBP, setelah sebelumnya dia menempuh masa vikariat selama 2 tahun setelah lulus dari STT Jakarta.
Pdt Gomar menceritakan keterkaitan dirinya dengan peristiwa 27 Juli 1996, saat itu dirinya masih terlibat dalam penanganan masalah konflik kepemimpinan puncak Gereja HKBP, sehingga sering berada di Sumatera Utara. Sementara itu, di Jakarta pecah peristiwa kerusuhan sebagai rentetan dari pelaksanaan Kongres Luarbiasa PDI di Medan, disusul perebutan Kantor DPP PDI di Jl. Diponegoro Jakarta Pusat. Sejumlah aktivis pemuda dan mahasiswa saat itu, dituduh sebagai pelaku dibalik peristiwa kerusuhan tersebut, diantaranya Budiman Sudjatmiko.
Pdt. Gomar mengisahkan bahwa Budiman Sudjatmiko dan belasan temannya sesama aktivis yang dicari-cari oleh pihak ABRI (saat itu), bersembunyi dikediaman Pdt. Gomar di Jakarta Selatan, kondisi Pdt Gomar saat itu masih menjadi Pendeta muda, yakni baru 10 tahun menjalani kependetaan dengan gaji yang masih minim, sementara di Jakarta, istri Pdt Gomar, tinggal bersama anak mereka yang kecil ketika itu.
Kisah perjalanan hidup Pdt. Gomar Gultom, digambarkan secara apik oleh Tim Penyunting, mampu menggambarkan secara utuh kiprah dan karakter seorang Pdt Gomar Gultom, yang kini sudah memasuki masa kependetaan lebih dari 3 dasawarsa, dan saat ini sudah dua periode menjadi Sekretaris Umum MPH PGI (periode 2009-2014, dan 2014-2019). Rekam jejak dan kiprah hingga kini berusia 60 tahun, dan dengan masa kependetaan 33 tahun, menjadi wajar ketika Pdt Gomar mendapat julukan “Sang Perajut Tenun Perdamaian”.
Tidak sedikit harapan dititipkan pada seorang Pdt Gomar, untuk ke depannya dapat membawa PGI semakin berkiprah lebih luas lagi bagi kepentingan umat, masyarakat, bangsa, dan negara, terlebih saat ini, Pdt Gomar sedang mempersiapkan pelaksanaan Sidang Raya XVII PGI, pada 8-13 November 2019 di Sumba NTT.
Berikut selintas riwayat hidup Pdt. Gomar Gultom, M.Th :
- Lahir di Tarutung Sumatera Utara, pada 8 Januari 1959 (kini berusia 60 tahun)
- Ayahnya bernama Teodosus Gultom, .seorang pegawai Departemen Agama RI, Ibunya bernama Ramean boru Siregar.
- Kakak perempuan bernama Frieda Gultom, adik Laki-laki bernama Dokter Hernalom Gultom.
- Beristrikan Dokter Spesialis Penyakit Dalam di RSUP Fatwamati, Loli Jendrianita boru Simanjuntak.
- Dikaruniai seorang anak kandung perempuan, Agustina Marisi Nauli Gultom, SH, lulusan FH Unpad, kini menempuh pendidikan S2 Ilmu Hukum di Universitas Tilburg Belanda, dan seorang perempuan muda keturunan Cina-Jawa, yang diangkat menjadi anak dikarenakan menikah dengan Bere Pdt Gomar Gultom, yakni Shintya Nominda boru Gultom, kini sudah memberikan seorang cucu perempuan untuk Pdt Gomar, yakni Chanella.
- Ia menempuh studi S1 di STT Jakarta, setelah lulu, ditahbiskan menjadi pendeta di Gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) pada 27 Juli 1986.
- Dosen STT HKBP, Pematang Siantar pada tahun 1988.
- Pernah menjabat sebagai Sekretaris Biro Pembinaan HKBP pada tahun 1991-1996.
- Pada tahun 1996, ia menjabat sebagai Direktor Lembaga Pengembangan SDM “Jetro” (1996-1999).
- Periode 1999-2000, menjadi Direktur Program JK-LPK.
- Kepala Biro Pembinaan HKBP (2000-2005).
- Sekretaris Eksekutif Bidang Diakonia PGI (2005-2009).
- Pada 2009, ia terpilih sebagai Sekretaris Umum PGI, untuk periode 2009-2014.
- Pada 2014, ia terpilih kembali sebagai Sekretaris Umum PGI, untuk periode 2014-2019. (DPT)
