
Sidang Umum Persekutuan Gereja-gereja Injili se-Dunia (General Assembly World Evangelical Alliance), yang dimulai pada 7 November 2019 di Sentul International Convention Center (SICC) Sentul Selatan Bogor, Jawa Barat, sudah melakukan sejumlah sesi pembahasan, dan seluruh rangkaian acara GA WEA 2019, akan ditutup besok Selasa 12 November 2019. Ada sejumlah catatan penting dari beberapa sesi persidangan, yang dihimpun dan dibagikan oleh jurnalis PERWAMKI, Robby Go.
Pada sesi The Kingdom of God in The 21st Century Cities, dengan narasumber Dr. Genevieve James; seorang tokoh yang kesehariannya beraktivitas dalam berbagai program pemberdayaan komunitas, terutama di daerah perkotaan. Dr. Genevieve James mendefinisikan tiga hal penting yang harus dipahami oleh mereka yang hendak melakukan pelayanan di perkotaan.
Pertama, jangan melakukan hal-hal yang kontra produktif. Secara tidak sadar, hal ini bisa dilakukan siapapun yang hidupnya terjebak dalam rutinitas. Di satu sisi, rutinitas memang membuat seseorang menjadi lebih mahir melakukan sesuatu. Namun di sisi lain, rutinitas juga bisa menggerogoti passion seseorang. Padahal orang yang bekerja tanpa passion rentan mengalami penurunan kualitas kerja. Pun dalam hubungannya dengan ibadah. Alih-alih memandang ibadah sebagai saat “isi ulang” sisi spiritualnya, banyak orang di perkotaan malah memandangnya sebagai salah satu bentuk rutinitas. Manakala mereka gagal menemukan Tuhan karena proses “isi ulang” yang tidak berjalan semestinya, mereka menemukan diri mudah tertekan, depresi, atau cenderung meresponi kadaan dengan negatif.
Kedua, kenali dinamika yang sedang terjadi. Sekecil dan sesepele apapun, kita harus peka supaya dapat mengambil tindakan yang diperlukan secara bijaksana. Misalnya terkait perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence) yang ibarat pedang bermata dua. Bisa membantu mempermudah pekerjaan manusia, tetapi juga berpotensi menyingkirkan manusia dari dunia kerja. Sebagai seorang Kristen yang dituntut menjadi terang dan garam, kesadaran terhadap setiap bentuk perubahan mutlak diperlukan.
Kemudian ketiga, berjalanlah dalam kebenaran. Dr. Genevieve James mengingatkan kerasnya kehidupan di perkotaan rentan membuat orang mengesampingkan kebenaran. Padahal orang yang hidup dalam kebenaran akan selalu memiliki damai sejahera. Sekalipun mungkin mereka bukan orang kaya, punya status sosial tinggi, atau memiliki jabatan tinggi di sebuah organisasi, mereka tetap dapat menemukan esensi hidupnya ketika berani tetap berjalan dalam kebenaran.
General Assembly World Evangelical Alliance 2019, yang diselenggarakan secara national organizer PGLII (Persekutuan Gereja-gereja dan Lembaga-lembaga Injili Indonesia), diisi para pembicara kristiani internasional, diantaranya Dr. Goodwill Shana, pendiri sekaligus Senior Pastor dari World of Life International Ministries yang ada di Bulawayo, Zimbabwe. Dr. Goodwil berbicara pada sesi bertemakan The Kingdom of God and Disciple Making The Urgency.
Dr. Goodwill Shana mendasari presentasinya dengan mengutip Lukas 14:21 yang mengatakan, “Maka kembalilah hamba itu dan menyampaikan semuanya itu kepada tuannya. Lalu murkalah tuan rumah itu dan berkata kepada hambanya: Pergilah dengan segera ke segala jalan dan lorong kota dan bawalah ke mari orang-orang miskin dan orang-orang cacat dan orang-orang buta dan orang-orang lumpuh.”
Ia kemudian menjelaskan bahwa ada banyak pekerjaan Tuhan yang harus dilakukan. Banyak orang tentu ingin dilibatkan di dalamnya. Akan tetapi pekerjaan Tuhan adalah sesuatu yang serius. Tidak boleh dilakukan sembarangan. Itu sebabnya setiap orang yang terlibat harus mau bekerja. Dalam artian, bersedia dimuridkan dan sudah lahir baru. Yang patut disayangkan, ternyata banyak orang tidak memandang kedua syarat tersebut secara serius. Akibatnya, pekerjaan yang mereka lakukan mengecewakan Tuhan karena jauh dari target yang ditetapkan. Pada titik inilah, pemuridan menjadi suatu hal yang sangat penting. Melalui pemuridan, kita diajarkan tentang nilai-nilai dan norma-norma yang seharusnya dimiliki seorang pengikut Kristus.
Dalam lingkup yang lebih luas, pemuridan mengajarkan bagaimana menyikapi berbagai persoalan hidup sehari-hari. Makin maraknya kasus kriminalistas, perdagangan manusia, hingga kekerasan dalam rumah tangga tidak bisa diselesaikan dengan penegakan hukum semata. Karena faktanya, kasus demi kasus terus bermunculan. Cara terbaik adalah dengan mengubah karakte manusianya. Orang yang sudah dimuridkan dan lahir baru akan memanifestasikan Kerajaan Tuhan di tengah lingkungan sekitarnya.
General Secretary World Evangelical Alliance Bishop Efraim Tandero, pada ketiga persidangan GA WEA 2019, melakukan pertemuan dengan pengurus dan anggota Persekutuan Gereja-gereja dan Lembaga-lembaga Injili Indonesia (PGLII). Pertemuan diadakan di VVIP Lounge usai rehat makan siang.
Pada pertemuan dengan jajaran PGLII, CEO WEA Bishop Efraim Tendero kembali menegaskan, bahwa terpilihnya Indonesia menjadi tuan rumah Sidang Umum WEA 2019 merupakan hal yang tidak terduga.
Bishop Efraim mengungkapkan alasan penetapan Indonesia menjadi tuan rumah GA WEA 2019, bahwa sebenarnya sudah ada beberapa tawaran yang masuk, diantaranya dari Korea Selatan dan Ethiopia. Secara fasilitas dan pendanaan, Korea Selatan sangat siap, demikian ujar Bishop Efraim asal Filipina. Sementara mengenai Ethiopia menjadi kandidat karena faktor sejarah. Dikatakan Bishop Efraim, bahwa Alkitab menyebutkan kekristenan masuk ke Afrika melalui seorang sida-sida Ethiopia yang ditemui Filipus di jalan sunyi (Kis. 8:27-38). Jadi akan sangat luar biasa jika Sidang Umum WEA 2019 diadakan di tempat yang sangat bersejarah bagi kekristenan.
“Namun saat saya berdoa, rupanya Tuhan justru menginginkan Indonesia menjadi tuan rumah. Saat saya sampaikan hal ini kepada Pdt. Nus Reimas, Ketua Majelis Pertimbangan PGLII, ia bilang akan mendoakannya dulu. Menyelenggarakan acara bertaraf internasional seperti ini pasti memerlukan persiapan matang dan biaya yang tidak sedikit. Jadi kalau nantinya Indonesia menyatakan tidak siap, saya bisa memakluminya” jelas Bishop Efraim.
Beberapa pekan kemudian, Pdt. Nus Reimas meminta saya segera meneleponnya. Pdt Nus Reimas, dengan nada berisak tangis, mengatakan bahwa setelah berdoa mendapat peneguhan untuk mengambil tawaran menjadi tuan rumah Sidang Umum WEA 2019. “Saya terkejut. Lantas bagaimana dengan dananya? Pdt. Ronny Mandang yang kemudian saya hubungi mengatakan Tuhan akan menyediakannya” terang Bishop Efraim.
Bishop Efraim melihat pelaksanaan Sidang Umum WEA 2019 berlangsung dengan baik, meski acara belum selesai, Bishop Efraim terkesan dengan cara panitia bekerja. Salah satu peserta Sidang Umum WEA 2019 yang sudah bergabung di WEA selama lebih dari 50 tahun, dan pernah mengikuti Sidang Umum WEA di berbagai negara, mengatakan bahwa ini merupakan salah satu Sidang Umum WEA terbaik yang pernah diikutinya.
“Oleh karena itu, saya ingin berterima kasih kepada semua pihak yang terlibat,” tutur Bishop Efraim. Pertemuan ditutup dengan doa, dan foto bersama. (DPT)
