

Gereja HKBP (Huria Kristen Batak Protestan) Kernolong Ressort Jakarta, yang berlokasi di Jl Kramat IV No. 37 Kelurahan Kenari Kecamatan Senen Jakarta Pusat, hari ini (Minggu, 22 September 2019) berpenampilan istimewa, berbagai foto hitam putih dipajang disejumlah tempat, tenda besar pun terpasang, sejumlah papan bunga ucapan bertengger dijalan menuju gedung ibadah, dan berbagai atribusi keramaian lainnya.
Pagi hingga sore tadi, HKBP Kernolong Ressort Jakarta mengadakan Ibadah Khusus dan perayaan dalam rangka memperingati 100 tahun
berdirinya Gereja HKBP Kernolong, HKBP pertama yang berdiri diluar Tapanuli. Rangkaian kegiatan peringatan tersebut dikemas dalam tajuk "Jubileum 100 Tahun HKBP Kernolong Resort Jakarta".
Perayaan Jubileum 100 tahun HKBP Kernolong, diketuai oleh St Hotman Nainggolan SE MBA, mengangkat tema "Martinangi, Marpambahenan, Marnida", dan dengan sub-tema : Huria Namatoras, Mamora Dihatani Debata, Mangaringgas Dipambahenan, Magodang di Parbinotoan, jala Manotong di Haburjuon. Perayaan dihadiri Ephorus HKBP, Ompui Pdt. Dr. Darwin Lumbantobing, yang juga menjadi pengkhotbah Ibadah Minggu.
Turut hadir puluhan pendeta HKBP diwilayah DKI Jakarta, parhalado HKBP Kernolong, para perwakilan keluarga pendiri HKBP Kernolong, serta keluarga keturunan tokoh-tokoh nasional yang juga warga HKBP Kernolong, seperti Keluarga Amir Syarifuddin Harahap (mantan Perdana Menteri Indonesia), Sutan Gunung Mulia Harahap (Mantan Menteri Pengajaran), Merari Siregar (sastrawan angkatan 45), dan yang lainnya.
Turut memeriahkan acara, artis senior Victor Hutabarat, paduan suara sejumlah gereja, tortor anak sekolah minggu, dan sejumlah penampil lainnya.
Berdasarkan paparan catatan
sejarah HKBP Kernolong, saat ibadah minggu, dijelaskan
kehadiran orang Batak dari Tapanuli di Batavia, menjadi cikal bakal berdirinya HKBP Kernolong.
Berdasarkan sejumlah sumber, dijelaskan bahwa pada 1907, termasuk juga disebutkan Lance Castle dalam bukunya berjudul "The Ethnic Profile of Djakarta", menyebutkan, orang Batak pertama kali merantau ke Jakarta tahun 1907, Simon Hasibuan, seorang lulusan seminar Pansurnapitu, berkelana ke Batavia, dan sepuluh tahun sesudahnya, tiga puluh pemuda Batak yang beragama Kristen berkumpul dan bersama-sama mengikuti ibadah di berbagai gereja. Mereka tertarik ke Gereja Kwitang (sekarang GKI Kwitang) karena ajakan Pdt. L. Tiemersma (1917) untuk mengikuti kebaktian bersama sejumlah pemuda dari etnis Tionghoa, Ambon, Menado, dan sebagainya, dalam bahasa Melayu di gedung HIS (Hollandseh Indisehe School) di samping rumahnya di Gang Chasse No 5,
kini Jl. Kemakmuran.
Setelah kelompok ini berpindah-pindah (Sawah Besar; lalu HIS di belakang Gereja Kwitang), akhirnya mereka membentuk suatu jemaat sendiri (1919).
Seorang pemuda Batak yang saat itu juga berada di Batavia, bernama Frederick Harahap, mengirimkan surat kepada majalah mingguan Surat Keliling Immanuel, berlokasi di Laguboti, yang isinya dalam terjemahan bebas,berbunyi “Siapa saja dari Bapak atau Ibu, yang hendak memberangkatkan anaknya ke Batavia, untuk melanjutkan pendidikan, atau mencari pekerjaan, datanglah ke rumah saya di Perbatasan Sawah Besar dan Kebun Jeruk No. 18 Batavia”. Efek dari surat tersebut ternyata mendapat respon positif, sehingga setelah itu, banyak pemuda Batak datang ke Batavia, dikatakan bisa terhitung setiap bulannya ada sekitar 2-3 orang pemuda tiap bulan saat itu ke Batavia. Para pemuda yang datang ke Batavia tersebut, hanya mampu berbahasa daerahnya, yakni Bahasa Batak, sehingga mereka hanya dapat mengikuti ibadah yang berbahasa Batak.
Pada tahun 1919, jemaat ibadah berbahasa Batak yang ada saat itu, menyurati Ephorus HKBP Dr. Johannes Warneck di HKBP Pearaja Tarutung, untuk dapat mengutus pendeta melayani mereka, Jemaat Batavia.
Ephorus HKBP saat itu, mengirimkan Pendeta Mulia Nainggolan (beserta keluarga).
Setelah memperoleh seorang pendeta pada tahun 1922, Jemaat Batavia mengusahakan tanah dan dana untuk membangun gereja pada 1928. Mereka mendapat sumbangan dari Ny. Pdt. Gouw Khiam Kiet dari Gereja Patekoan (sekarang GKI Perniagaan).
Setelah dana mencukupi, istri Walikota Batavia melakukan peletakkan batu pertama (1931). Pembangunan gereja sederhana cepat selesai dan dibuka pada tahun 1932 dan sampai Perang Dunia II menjadi pusat Distrik IX HKBP. Setelah tahun 1950 begitu banyak orang Batak pindah ke Ibukota, sehingga Gereja Kernolong kurang luas, walaupun sudah di-pugar. Maka, sejak tahun 1955 digunakan tempat-tempat lain juga. Pada tahun 1960-an sudah terdapat enam belas jemaat HKBP di Jakarta. Pada tahun 2002, gereja ini dipugar secara menyeluruh.
Pendeta HKBP Kernolong Ressort Jakarta, Pdt. Maurixon Silitonga, M.Th, menjelaskan bahwa 20 September 1919, saat kebaktian/
ibadah berbahasa Batak untuk pertama kalinya di Jakarta, yakni bertempat digereja yang sekarang dikenal sebagai GKI Kwitang, menjadi dasar peringatan hari lahirnya HKBP Kernolong. (DPT)
