
Gubernur DKI Prof. H. Anies R. Baswedan, SE., MPP., Ph.D yang pada 7 Mei 2019 berusia 50 tahun, merupakan tipe pemimpin yang menerapkan model kepemimpinan kolaboratif; menempatkan pemerintah daerah sebagai kolaborator yang mengkolaborasi sejumlah unsur pihak terkait, yakni pemda itu sendiri, masyarakat, swasta, dan pakar/ahli.
Hal tersebut terungkap saat Gubernur Anies memberikan kuliah umum di kampus Sekolah Tinggi Teologia Rahmat Emmanuel (STT REM) di Kelapa Gading Jakarta Utara, kemarin Senin (12 Agustus 2019). Anies yang juga mantan Rektor termuda di Indonesia, yakni usia 38 tahun menjadi Rektor Universitas Paramadina Jakarta, menjelaskan
"Kepemimpinan Urban Saat Ini".
Hadir mendampingi Gubernur Anies, Sahhrianta Tarigan mantan Anggota DPRD DKI Jakarta, Rico Sinaga pengggiat LSM, Ketua PGPI DKI Jakarta (Persekutuan Gereja- gereja Pantekosta Indonesia) Pdt. Jason Balompapueng, juga turut hadir diantara sekitar 100 orang tamu dan undangan, Ketua Yayasan Conrad Supit Pdt. Dr. Abraham Conrad Supit, Ketua PGIW DKI Jakarta Pdt. Sephard Supit, Ketua STT REM Dr. Ariassa Supit, Ketua baru STT REM Pdt. Dr. Yogi Dewanto, jajaran pengurus PERWAMKI (Perkumpulan Wartawan Media Kristiani Indonesia), selain mahasiswa dan civitas akademika STT REM. Kuliah umum dipandu oleh Direktur Eksekutif Conrad Supit Center Johan Tumanduk, SH., MM., M.Min.
Kegiatan kuliah umum dengan pembicara Gubernur Anies R. Baswedan, diawali dengan prosesi serah terima kepemimpinan STT REM yang baru, yakni Pdt. Dr. Yogi Dewanto, dari Ketua STT REM sebelumnya Dr. Ariassa Supit, yang sekarang menjadi Ketua Pusat Pengkajian Ketahanan Nasional UI. Prosesi serah terima disaksikan Gubernur Anies.
Gubernur Anies, mengawali paparan kuliah umumnya, dengan menungkapkan bahwa dirinya tidak pernah membayangkan akan menggunakan seragam dengan berbagai tanda pangkat dan jabatan, seperti dikenakannya dalam kuliah umum.
"Ada pejabat yang tidak pemimpin, ada juga pemimpin tapi tidak pejabat. Seseorang dikatakan sebagai pemimpin, karena ada yang dipimpin secara sadar dan sukarela. Kalau sebagai Gubernur, dengan jajaran struktural yang ada, mereka mau tidak mau, suka atau tidak suka, harus mau dipimpin Gubernur. Itu pola kepemimpinan yang lama, tapi sekarang saya menerapkan kepemimpinan berbasis gerakan, sebagaimana dahulu diterapkan para bapak pendiri bangsa" jelas Anies.
Anies mengungkapkan salah satu contoh penerapan kepemimpinan kolaboratif, yakni program pembangunan taman-taman kota.
Gubernur Anies, saat pemaparan kuliah umum kemarin, mengungkapkan sejumlah fokus masalah yang dihadapi pemda, yakni diantaranya masalah turunnya permukaan tanah 7 - 20 cm per tahun, inilah salah satu pertimbangan Gubernur Anies menolak proyek reklamasi. Selain itu, Anies juga menyebutkan masalah tingginya angka kemiskinan, yakni secara statistik Anies mengemukakan, bila batas rata-rata penghasilan per bulan ditarik ke angka 1 juta rupiah per bulan, maka ada 3 juta orang yang terkategori miskin, dan inilah yang menjadi fokus penanganan
Gubernur Anies. Disamping itu, masalah akses air bersih, 47% penduduk Jakarta tidak punya akses air bersih. Selain itu, masalah rumah tinggal, Gubernur Anies mengungkapkan bahwa 49% penduduk tidak mempunyai tempat tinggal. Fakta lain yang menjadi fokus perhatian Gubernur Anies adalah soal angka kelulusan SMA hanya 68%.
Gubernur Anies juga bercerita saat dirinya berkunjung ke Pulau Sebira, sekalipun secara jarak kedekatan dengan daratan, lebih dekat dengan Lampung, tapi pulau ini masih masuk wilayah Kepulauan Seribu. Dulu, transportasi ke Pulau Sebira, hanya dilayani oleh 2 kapal, dengan waktu tempuh 8 jam perjalanan, itupun hanya ada 2 kali dalam seminggu, tetapi kini Gubernur Anies, membuat kebijakan transportasi ke Pulau Sebira menjadi 2 hari sekali ada kapal, dan dengan waktu tempuh menjadi 2 jam. Masyarakat Pulau Sebira kini merasa Jakarta itu dekat, tidak jauh seperti dulu.
Kunjungan Gubernur Anies ke Pulau Sebira, merupakan kunjungan Gubernur DKI kedua, sejak pertama kali Gubernur DKI datang pada 1991.
Gubernur Anies memberikan contoh kepemimpinan kolaboratif yang diterapkannya, yakni dalam hal penataan taman-taman kota.
"Kami mau mengatur taman. Kami tahun ini membangun 50 taman, setiap tahun 50 taman, direnovasi, diubah. Tapi cara bangunnya tidak seperti biasanya, kalau biasanya, kalau membangun taman, maka kami bikin tender, disain, kemudian kontraktor mengerjakan, satu tahun selesai. Kalau sekarang tidak. Kami datang ke taman itu, mengajak seluruh warga sekitar taman itu, kumpul, rumuskan anda butuhnya apa, taman ini mau dibuat seperti apa, kebutuhan anda apa saja, dan ini istilah kita 'Taman Maju Bersama'. Komunitas-komunitas terlibat, yang arsitek silakan kasih ide, yang ahli lansekap berikan, taman itu dirancang secara bersama-sama. Kami merekrut khusus fasilitator. Jadi ada fasilitator, pemerintah, ada masyarakat, ada pakar, segi empat ketemu". jelas Gubernur Anies. (DPT)
