Skip to content Skip to navigation

IPTAA - ASOSIASI USAHA PERJALANAN WISATA ZIARAH ROHANI KRISTEN DIDIRIKAN UNTUK PERJALANAN YANG NYAMAN DAN BERTANGGUNG JAWAB

Tren bisnis usaha perjalanan di Indonesia, sejak tahun 1990 diwarnai maraknya berbagai produk perjalanan wisata dan ziarah rohani, sebagai respon atas meningkatnya permintaan konsumen perjalanan ke sejumlah destinasi khusus, yang mempunyai hubungan dengan religiusitas konsumen, peluang tren tersebut makin terbuka seiring banyaknya juga maskapai internasional masuk membuka jalur penerbangan di Indonsia menuju negara mereka.

Sejumlah pelaku usaha perjalanan, menyadari dan mencermati tren perjalanan wisata dan ziarah rohani yang terus berkembang tersebut, memandang perlu adanya wadah koordinasi perusahaan pelaku usaha perjalanan tersebut. Pada 3 Mei 2018, berdiri wadah bernama NAICIPTA (National Association of Indonesia Christian Pilgrimage Travel Agencies), yang kemudian pada 2 November 2018, berubah menjadi IPTAA (Indonesia Pilgrimage Travel Agencies Association), berdiri berdasarkan akta notaris, dengan anggota berjumlah 54 perusahaan, memiliki motto "Together Stronger - Untuk Ziarah yang Nyaman dan Bertanggung jawab".

Hari ini, Jumat 1 Maret 2019 bertempat di Hotel Luminor Jl Pecenongan Jakarta Pusat, pengurus dan anggota IPTAA ( Asosiasi Perjalanan Wisata Penyelenggara Tours Ziarah Indonesia), melakukan konferensi pers memperkenalkan organisasi wadah tersebut kepada publik.

Ketua IPTAA, Maurizio Arifin Koeswara, menjelaskan bahwa visi dari asosiasi ini, yaitu: menjadi wadah bagi penyelenggara wisata ziarah rohani Kristiani yang profesional, bertanggung jawab, bermoral, melayani pelanggan dengan sungguh-sungguh sesuai dengan nilai Kristiani, serta dapat memajukan semua anggotanya.

Sedangkan misi IPTAA, yaitu: pertama, membina serta mengayomi untuk dapat memajukan para penyelenggara perjalanan ziarah wisata rohani Kristiani. Kedua, meningkatkan kompetensi, integritas dan perilaku profesional dari setiap anggota sebagai penyelenggara wisata ziarah rohani Kristiani. Ketiga, menerapkan standar kompetensi yang sehat bagi para sesama penyelenggara ziarah rohani Kristiani. Keempat, berperan aktif dalam pengembangan wisata ziarah rohani Kristiani baik dalam lingkup nasional dan internasional. Kelima, membangun Kode Etik Pengusaha Wisata Ziarah Rohani Kristiani. Keenam, saling membantu antar sesama anggota.

Dirjen Bimas Kristen RI Prof Dr Thomas Pentury, yang berkesempatan hadir, menyampaikan apresiasi atas terbentuknya IPTAA.

Menurutnya, perjalanan ziarah rohani harus dimaknai sebagai bagian dari proses liturgi iman, sehingga perlu dilaksanakan dengan baik.

Prof Tommy, demikian sapaan akrab mantan Rektor Universitas Pattimura Ambon, berharap asosiasi ini dapat memainkan perannya. “Tentu tidak mudah bagi iPTAA. Sebab itu harus ada regulasi yang dapat mengatur perilaku semua anggota". Namun demikian permasalahan koordinasi perizinan, persoalan koordinasi perizinan wisata rohani muslim, mereka berkoordinasi dengan Dirjen Bimas Islam, tetapi untuk kristen, tidak/belum menjadi bagian dari Dirjen Bimas Kristen.

Prof Tommy pun mengemukakan bahwa dirinya sebagai Dirjen Bimas Kristen, notanene bagian struktural pemerintah, tidak bisa ikut serta ziarah ke Yerusalem, dikarenakan tidak ada hubungan resmi diplomatik Indonesia dan Israel.

Berikut struktur kepengurusan IPTAA :
Penasehat : Jonki Ananta Koeswara, dan Liem Mulyadi
Ketua : Maurizio Arifin Koeswara
Sekjen : Agnes Surya
Bendahara : Maria Goretti Soekesti dan Clarissa
Media dan Humas : Tintin Irawati, dan Lie Kie Sin
Kode Etik : Franciscus Asmi Irianto
Organisasi : Michael A. Tombokan, dan Aldo Rinaldi
Sponsor dan Dana : Hermawan Soelistyo, dan Michael Rizal
Legal Advisor : Ignatius Galih Ariputra, SH., M.Kn (BOB/DPT)

Share

Advertorial