Skip to content Skip to navigation

JPIP GELAR SEMINAR DAYA SAING PRODUK DALAM NEGRI DI PASAR GLOBAL

Jaringan Pemerhati lndustri dan Perdagangan (JPIP) yang dipimpin Ketua Umum Ir. Lintong Manurung MM, kemarin (Rabu 27 Februari 2019) bertempat di Ruang Garuda
Kantor Kementerian Perindustrian Jl. Gatot Subroto Kav 52-53 Jakarta, mengadakan
Seminar berjudul "Meningkatkan Daya Saing lndustri di pasar gobal".

Hadir sebagai narasumber : Ir. Putu Juli Ardika, MA, Direktur lndustri Maritim, Transportasi dan Pertahanan, yang tampil menjadi pembicara pertama, lalu
Heroe Wiedjatmiko, Pet.Acct Ketua Litbang JPIP, Ari Muladi, Asosiasi lndustri Perlampuan Indonesia (APERLINDO), dan Yuniadi H Hartono, Gabungan lndustri Kenderaan Bermotor Indonesia (GAIKINDO), dipandu oleh Ketua Umum JPIP Ir. Lintong Manurung, MM.

Seminar yang dihadiri oleh pelaku/
manajemen/pimpinan usaha industri berbagai bidang, dilaksanakan pagi hingga siang hari. Peserta terlihat antusias mengikuti keseluruhan paparan para pemateri.

Lintong Manurung dalam sambutan pembukaan seminar, mengemukakan bahwa JPIP melaksanakan seminar sebagai
perwujudan komitmen dan perjuangan dari seluruh komunitas pemerhati industri dan perdagangan untuk mewujudnyatakan keperdulian dan partisipasinya, dalam pengembangan industri dan perdagangan di Indonesia.

Lebih lanjut, dijelaskan Lintong, seminar tersebut juga kelanjutan program dan kegiatan DPP JPIP untuk melaksanakan tugas pokok dan fungsinya sebagai mitra strategis dan profesional dari Pemerintahan di sektor lndustri dan Perdagangan.

Seminar diadakan oleh JPIP bekerja sama
dengan Kementerian Perindustrian, dan Karawang New Industry City sebagai mitra kerja, serta bersama-sama dengan GAlKlNDO dan APERLINDO, dalam rangka mewujudkan peningkatkan pelayanan dan iklim berusaha yang sehat, peningkatan daya saing dan produktivitas dunia usaha serta meningkatnya peranan dan kinerja lndustri dalam menopang peningkatan ekonomi Nasional.

Hasil Seminar ini diharapkan dapat memberikan informasi dan solusi yang bermanfaat mengenai penyempurnaan kebijakan bagi Pemerintah, terutama dalam usulan kebijakan investasi, inovasi , peningkatan kwalitas SDM untuk dunia usaha dan investor yang akan mengambil peran dalam peningkatan daya saing produk industri dalam negeri.

Laporan World Economic Forum (WEF) terkait Global Competitiveness Index 2017 - 2018 di Jakarta, memperlihatkan bahwa daya saing Indonesia secara global tahun ini berada pada posisi ke-36 dari 137 negara atau naik lima peringkat dibandingkan tahun sebelumnya yang menduduki posisi ke-41. Sedangkan, tahun 2013 posisi ke-38 dari 148 negara, tahun 2014 posisi ke-34 dari 144 negara, dan tahun 2015 posisi ke-37 dari 140 negara.

Di dalam pernyataan resminya, WEF menyatakan indeks daya saing disusun secara tahunan untuk mengetahui Ianskap daya saing global, sejalan dengan Revolusi lndustri Keempat alias lndustri 4.0. Di dalam indeks tersebut. AS berada pada peringkat pertama, disusul Singapura, Jerman, Swiss, dan Jepang. "Metodologi Global Competitiveness Report terbaru juga memberikan pandangan tentang kesiapan negara untuk masa depan, modal sosial, hingga dukungan terhadap bisnis disruptif, dan kekhawatiran utang,"

Peningkatan daya saing Indonesia di kancah global pada empat yahun terakhir ini sudah menunjukkan eksistensi bahwa produk-produk industri nasional yang semakin kompetitif baik di pasar domestik maupun ekspor. Capaian ini tidak terlepas peran industri dalam negeri yang sudah memanfaatkan teknologi digital terkini serta aktif melakukan kegiatan riset untuk menciptakan inovasi. Dari laporan World Economic Forum (WEF) terkait Global Competitiveness Index 2017-2018 di Jakarta, Sabtu (30/9). memperlihatkan bahwa daya saing Indonesia secara global tahun ini berada pada posisi ke-36 dari 137 negara atau naik lima peringkat dibandingkan tahun sebelumnya yang menduduki posisi ke-41. Sedangkan, tahun 2013 posisi ke-38 dari 148 negara, tahun 2014 posisi ke-34 dari 144 negara, dan tahun 2015 posisi ke-37 dari 140 negara.

Di dalam pernyataan resminya, WEF menyatakan indeks daya saing disusun secara tahunan untuk mengetahui Ianskap daya saing global, sejalan dengan Revolusi lndustri Keempat alias lndustri 4.0. Di dalam indeks tersebut. AS berada pada peringkat pertama, disusul Singapura, Jerman, Swiss, dan lepang. "Metodologi Global Competitiveness Report terbaru juga memberikan pandangan tentang kesiapan negara untuk masa depan, modal sosial, hingga dukungan terhadap bisnis disruptif, dan kekhawatiran utang,"

Putu Juli Ardika saat menyampaikan paparannya, mengemukakan hal yang mengejutkan peserta, dikatakan Putu "Indonesia akan menjadi 'global trend green bio fuel', kita tidak lagi hanya menjadi follower". Hal ini dikarenakan kita sudah menemukan suatu rumusan dalam hal pengolahan pembuatan bahan bakar, lebih lanjut Putu menjelaskan.

Putu juga mengemukakan dalam konteks industri 4.0, pemerintah sedang mempersiapkan suatu sistem dan mekanisme yang memanfaatkan perkembangan teknologi 4.0. " Sekarang ini kan kita banyak dipermudah dengan perkembangan teknologi 4.0, seperti pembelian tiket perjalanan, pemenuhan kebutuhan, nanti pun dalam bidang industri akan dibuatkan seperti itu, jadi akan ada kemudahan dan efisiensi" ujar Putu.

Sementara itu Heroe yang juga pakar dalam bidang pelatihan softskill, dan berpengalaman dalam mengelola human resources, menegaskan bahwa untuk dapat terjadinya peningkatan kapasitas dan kualitas daya saing produk dan industri, faktor sumberdaya manusia memegang peranan penting.

Kedisiplinan dan pembentukan watak karakter adalah faktor penting dalam mewujudkan SDM berkualitas, disamping juga adanya pengaruh nilai dan kultur yang ada.

Ari sebagai pelaku industri lampu, mengemukakan bahwa tren industri lampu saat ini adalah lampu hemat energi, khususnya dikarenakan penemuan model lampu LED.

Kebijakan industri perlampuan nasional mendukung juga kebijakan pemerintah tentang pengadaan listrik 35.000 watt.

Aperlindo, menurut Ari lebih lanjut, dalam rangka mendukung dan standarisasi industri lampu LED, meminta pemerintah untuk menerapkan SNI IEC 62560:2015 untuk industri lampu LED. Selain itu juga, Aperlindo mengharapkan bea masuk LED 15%-25% dengan menetapkan HS tersendiri, atau tidak digabung LHE/CFL yang telah berlaku CAFTA, dan HS 94 tidak relevan.

Yuniadi dari GAIKINDO mengemukakan bahwa, otomotif merupakan 1 dari 5 industri prioritas nasional. Indonesia sejak 2008 sudah menjadi net exporter dalam konteks industri otomotif. Produksi penjualan masih bertumbuh, 2018 penjualan 1 juta unit, dengan pertumbuhan ekonomi saat itu 5.17%.

Indonesia sudah mampu mengekspor produk otomotif ke 80 negara, dengan negara tujuan utama ekspor : Filipina, Arab Saudi, Jepang, Mexico, dan Vietnam.

Indonesia menjadi basis ekspor kendaraan efisien bahan bakar dan rendah emisi.

Gaikindo berharap pemerintah
diantaranya melakukan, harmonisasi PPn.BM, dan penyederhanaan kategorisasi kndaraaan sesuai tren/standar internasional, untuk mendorong peningkatan produksi industri otomotif. (DPT)

Share

Advertorial