

Pdt Bigman Sirait, pendiri dan Gembala Sidang Gereja Reformasi Indonesia (sister church Indonesian Reformed Church di Sydney, yang berada dibawah asosiasi Christian Reformed Church of Ausralia), juga pendiri sejumlah lembaga pelayanan lainnya, dan juga pendiri (bersama alm. Dr. Victor Silaen, MA)
sekaligus pemimpin media kristen
Tabloid Reformata serta Reformata.com, saat jelang usia 58 tahun (nanti pada 11 Desember 2019), pada 29 Juni 2019 pukul 20.44 wib, di RS Mitra Keluarga Kelapa Gading Jakarta Utara, Tuhan telah memanggil Pdt Bigman pulang ke rumah Bapa di Sorga.
Jenazah Pdt Bigman sejak 30 Juni 2019 disemayamkan di Rumah Duka Sentosa RSPAD Gatot Subroto Jakarta Pusat, sebelum nantinya Selasa 2 Juli 2019 dibawa ke krematorium Oasis.
Ibadah penghiburan yang diadakan dirumah duka kemarin (Minggu, 39 Juni 2019), dihadiri ribuan jemaat dari berbagai denominasi gereja/lembaga
/organisasi kristiani, sejumlah tokoh seperti advokat senior Prof. Dr. Otto Hasibuan, SH., MM, tokoh kristen Amir L. Sirait, MBA, Ketua STT IKAT Pdt. DR. M.R. Jimmy Lumintang, M.M., MBA, M.Th, Pdt. Gilbert Lumoindong, termasuk Perkumpulan Wartawan Media Kristiani Indonesia (PERWAMKI).
Gerejani Dot Com menelusuri histori perawatan yang dijalani Pdt Bigman, namun dalam berbagai pencarian pada mesin pencari Google, sangat sedikit rekam jejak digital yang mencatatkan tentang histori tersebut. Rekam jejak digital yang paling banyak adalah tentang aksi Pdt Bigman, yang saat itu masih menjadi pasien ICU akibat penyakit jantung yang dideritanya, nekat datang ke TPS untuk mencoblos pada Pemilu 2019 lalu, sekalipun masih terbaring dalam tempat tidur ICU, lengkap dengan berbagai peralatan, dan pendampingan tim medis RS Mount Elizabeth Novena Singapura.
Gerejani Dot Com terus melakukan pencarian, dan akhirnya sumber pun didapat. Laman FB Pdt. Dr. Ir. Mangapul Sagala, salah seorang rekan sejawat Pdt Bigman dalam pelayanan, mencatatkan kisah penyakit jantung Pdt Bigman.
Pdt Bigman menyampaikan kisah penyakitnya kepada Pdt Mangapul sebagai Senior dalam pelayanan, juga seorang ssahabat. Demikian diungkapkan Pdt Bigman :
"Terimakasih untuk doa, dukungan moril dan materil, yang diberikan dalam rangka keberangkatan ke Jerman untuk operasi pemasangan pompa jantung. Kondisi pompa jantungku cenderung terus melemah, kini 10% (normal 55-80%). Kondisi ini sangat rawan dengan kegiatan pelayanan yang Tuhan percayakan di Kota dan Desa (khususnya Kalimantan dan Papua). Tidak ada jalan medis lain selain memasang pompa jantung buatan (VAD), untuk menggantikan fungsi pompa jantung yang lemah. Dan aku bersyukur kepada yang Tuhan memungkinkan untuk menjalani operasi melalui kebersamaan kasih rekan-rekan sepelayanan.
Pemasangan pompa jantung bersifat sementara 4-6 tahun (belum ada yang bersifat permanen) hingga mendapatkan donor jantung untuk transplantasi. Asia belum punya pengalaman memadai untuk teknik medis ini. Jerman dan Amerika menemukan lalu terus mengembangkannya. Itu sebab aku harus ke Jerman, Evangelical Klinikum di Duisburg Jerman dan akan ditangani oleh Dr. Korfer dan tim. Tahap pertama akan di observasi, setelah itu tahap operasi (5-6 Jam). Yang lama adalah tahap evaluasi dan recovery dua minggu di RS. Dilanjutkan tahap rehabilitasi dibawah RS. Kemudian diluar RS dua minggu untuk adaptasi dan baru bisa kembali ke Jakarta. Total sekitar enam minggu.
Ijinkan sekilas aku mensharingkan riwayat penyakit jantung ku, karena banyak rekan-rekan yang tidak mengetahui lengkap. Tahun 2000 ditemukan katup jantungku bocor, menurut dokter bawaan lahir yang berakibat dikemudian hari karena tidak terdektesi dini. Saat itu pompa jantungku 33% dan jantung sudah membengkak (menurut dokter agak terlambat). Mau operasi dana tak tersedia, tapi cara Tuhan memang luar biasa, DIA menghimpun rekan-rekan ku yang terbeban dan memobilisasi dana hingga akhirnya operasi di ME Singapura. Setelah operasi pemasangan katup jantung aku melanjutkan pelayanan lewat yayasan MIKA yang aku dirikan, membangun sekolah di Kalimantan yang diberi nama Sekolah Kristen Makedonia, sekarang tingkat pendidikan yang ada PAUD, SD, SMP, SMA, dengan alumni yang sudah S1 200 lebih dan masih kuliah 500 lebih. Yang di beasiswa oleh Yayasan MIKA kerjasama dengan TC.UPH, 60 lebih dan mengabdi menjadi guru. Juni tahun ini akan Soft Opening STT Makedonia dan Grand Opening Juli 2019. Jadi ada yang menunggu setelah operasi pompa jantung.
Tahun 2004, ditemukan Hernia, sobek sebelah kiri dan harus operasi. Mengumpulkan uang tapi terpakai untuk penyelesaian pembangunan sekolah yang butuh dana segera, sehingga tertunda satu tahun. Seorang ibu yang kemudian menjadi ibuku, membawa aku dioperasi, dan ternyata sudah sobek kiri dan kanan. Luar biasa biasa pemeliharaan Tuhan, semua tepat waktu.
Tahun 2006, 2008, aku mengalami pembengkakan jantung karena terlalu capek (banyak trip ke Kalimantan) dan diopname delapan hari di RSPI. Sepanjang sakit ku di Jakarta aku ditangani oleh seorang dokter yang sangat mengasihi Tuhan dan setia melayani. Ke Singapura dokterku juga yang merekomendasikan dan berkomunikasi dengan mereka. Aku bagai pasien VIP yang minim dana.
Tahun 2009 pembengkakan lagi dan berobat jalan di ME Singapura selama dua minggu, lagi-lagi aku diingatkan Tuhan lewat sakitku bahwa aku punya banyak saudara/i yang peduli dan mengasihiku.
Tahun 2014 ketika sedang memimpin PA aku ternyata pingsan dikursi sehingga semua rekan PA berteriak dan membawaku ke RS. Ditangani di RSSKJ aku dipasang alat bantu CRTD (berfungsi sebagai kejut jantung, pengantar listrik, dan sinkronis pompa) yang dilanjutkan penangannya di Singapura.
Tahun 2017 sering mengalami korslet listrik jantung, ini istilah umumnya, dan mengakibatkan hilang kesadaran sesaat. Awal Desember 2017 mendapat serangan beruntun hingga pingsan dan sadar sebanyak enam kali. Rupanya serangan beruntun ini sangat mempengaruhi kerja pompa jantungku yang saat itu sudah dilevel 19%.
Tahun 2018, sekarang pompa jantung tinggal 10%, maka pemasangan pompa jantung harus dilakukan. Tempat jauh, biaya tinggi, tak menghalangi, Tuhan punya jutaan cara melukis kehidupan anak-anakNya, dan inilah lukisanNya bagi ku. DigerakkanNya saudara/i ku, dipersiapkanNya aku, hujan doa terasa indah, dana tersedia, aku berangkat bukan karena pendeta kaya, tapi pendeta yang dipelihara Allahku, Tuhanku, yang kulayani dengan setia. Ini adalah alat ketiga di jantung ku, sehingga aku sering guyon mau ganti nama Bigman menjadi Bionicman.
Enam minggu di Jerman untuk operasi bagiku adalah cuti panjang dari Tuhan setelah sebelumnya tahun 2014 aku dapat cuti empat minggu. Tidak ada yang salah, sakit ku telah jadi alat bantu menjaga motivasi pelayanan ku yang sangat aku syukuri. Proses pengobatanku adalah cara DIA bertutur kepada ku akan kemahakuasaanNya, yang juga pesan indah dariNya yakni menaruh banyak orang yang mengasihiku di sekitarku sebagai kaki tanganNya. Apa yang Tuhan tak bisa gerakkan dibumi ini. Semua milik dan dalam kuasaNya. DIA jadikan aku pendiri sekolah PAUD, SD, SMP, SMA, yang berprestasi dan memulai STT, sekalipun aku tidak pernah mendapat pendidikan formal pedagogig. DIA jadikan aku pendiri pelayanan media (TV, Radio, Youtube, Tabloid) sekalipun aku tidak pernah mendapat pendidikan jurnalis atau broadcasting. Dia jadikan aku penulis yang telah melahirkan enam buku, dan belasan yang menunggu tahap editing, sekalipun aku tak pernah mendapat pendidikan sastra. Ah, Tuhan; Siapakah aku si pendosa ini, sehingga ENGKAU berkenan memakaiku. ENGKAU memberi istri yang setia mendampingi dan melayani, anak dan mantu yang menghormati dan mengasihi, serta dua cucu yang manis dan sangat dekat dengan aku. Ah, indahnya hidup yang Tuhan berikan.
Aku tak peduli berapa panjang usiaku, tapi sangat hati-hati dengan apa yang kulakukan sepanjang usia yang diberikanNya. Aku tak pusing dengan berapa harta yang diberiNya, tapi aku harus terjaga dengan menggunakannya tepat arah yaitu hanya untuk melayani dan memuliakan namaNya.
Tulisan ini aku rindu bisa menjadi kadoku bagi semua saudara sepelayanan. Berapapun panjang usia, bagaimanapun kondisi tubuh kita, tidak ada kata capai apalagi berhenti melayani DIA. Aku bersyukur boleh menjadi alat yang dipakaiNya dalam sakitku, karena itu dibenakku yang terbesar bukan operasi yang akan kujalani, tapi Misi akhir bulan Juni dan bertemu anak-anak didikku di Kalimantan dan berharap bisa memulai pembangunan sekolah di Papua.
Akhirnya, jangan pernah puas melayani Tuhan tapi belajarlah selalu puas atas berkat yang diberikanNya. Selamat menemukan kunci keseimbangan antara iman dan kenyataan kehidupan, dan menemukan tempat yang memang Tuhan tempatkan dan bukan sekedar pilihan diri.
Terimakasih sahabatku, sampai bertemu di akhir Juni nanti. Tuhan senantiasa menolong dan memberkati kita. -Bigman Sirait-".
Adapun keluarga Pdt. Bigman Sirait, Istri Greta Mulyadi DS, anak-anak : Kezhia Bianta, Keithy Dorothy, dan seorang putra Kennan Jonathan. (DPT)
