

Majelis Pekerja Harian Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (MPH PGI), setelah melaksanakan Sidang Raya XVII di Sumba Nusa Tenggara Timur, pada Jumat 22 November 2019, melakukan pertemuan dengan Menteri Agama Fachrul Razi.
Pertemuan diadakan diruang kerja Menteri Agama, selain menyampaikan hasil Sidang Raya ke-17, mantan Sekretaris Umum MPH PGI, Pdt. Gomar Gultom, M.Th, yang terpilih menjadi Ketua Umum MPH PGI periode 2019-2024, menggantikan Pdt. Dr. Henriette Lebang, juga secara khusus mengungkapkan tentang kondisi daerah Sumba.
Pdt Gomar mengemukakan bahwa, Sumba sebagai lokasi Sidang Raya, perlu mendapat perhatian khusus karena kondisi alam yang tandus, namun punya potensi pariwisata yang luarbiasa.
Kondisi alam Sumba tersebut,
mengakibatkan warga memilih keluar dari Sumba dan menjadi pekerja migran. Sayangnya, lanjut Pdt Gomar, tidak sedikit yang kembali dalam kondisi jadi mayat. Bahkan sebagian menjadi korban perdagangan manusia (human trafficking).
PGI selain menyuarakan tentang perhatian terhadap kondisi alam Sumba, juga menyampaikan bahasan tentang angka stunting sangat tinggi di Indonesia termasuk di Sumba, sudah melebihi batas yang ditetapkan oleh WHO. Peran gereja-gereja dalam mengatasi persoalan ini sangat dibutuhkan.
Maraknya radikalisme berimbas pada banyaknya persoalan kehidupan keagamaan di Indonesia, salah satunya adalah gangguan beribadah karena penutupan rumah ibadah oleh kelompok-kelompok tertentu.
Salah satu upaya untuk menekan persoalan ini, yaitu perlunya dibuka ruang dialog dengan kelompok-kelompok yang berbeda.
Hal tersebut diatas ditegaskan Menteri Agama Fachrul Razi, kepada MPH PGI yang dipimpin Pdt Gomar Gultom, saat berkunjung ke Kantor Kementerian Agama.
Menteri Agama menekankan, bahwa posisi Kementerian dalam persoalan tersebut lebih kepada fasilitator dalam membuka ruang ruang dialog. “Saya lebih menekankan agar selalu diawali dengan dialog, jangan cepat cepat bilang tidak bisa, karena setiap orang punya pandangan yang berbeda. Harus dicari jalan keluar bersama, karena sejak dari awal memang kita sudah beragam,” tegas Menag.
Menag RI menyambut antusias bahasan yang disampaikan MPH PGI. Menurut Menag, Presiden Joko Widodo juga menaruh perhatian serius terhadap persoalan stunting, dan merupakan kekhawatiran bersama akan masa depan generasi Indonesia.
Salah satu yang ditekankan oleh Kemenag adalah perlunya bimbingan perkawinan agar pasangan yang menikah mengetahui sejak awal apa yang dilakukan mencegah stunting.
Dalam kesempatan pertemuan dengan Menag, Pdt Gomar menyerahkan dokumen hasil-hasil Sidang Raya XVII PGI, dan berharap kehadiran Menag dalam acara serah terima Majelis Pekerja Harian yang terpilih dalam Sidang Raya Sumba pada tanggal 12 Desember 2019.
MPH PGI menyampaikan aspirasi dari gereja Huria Kristen Indonesia (HKI) Juanda, Kelurahan Cisalak, Kecamatan Sukmajaya yang sudah berdiri sejak 4 tahun lalu, namun akan terancam digusur, terkait dengan adanya rencana lahan yang ditempati HKI ini, masuk dalam wilayah pembangunan Universitas Islam Internasional.
Menag RI menyampaikan bahwa surat pengaduan sudah diterima dan sudah dipelajari. Hal tersebut sudah menjadi perhatian dirinya,
dan berusaha mencari jalan keluar. “Tentu proses dialog sangat diperlukan untuk mencari jalan keluar bersama,” kata Menag.
Hal lain yang dibicarakan adalah keinginan Menag menghadiri kegiatan-kegiatan umat Kristen termasuk Natal Nasional yang akan diselenggarakan di Sentul pada 28 Desember 2019 nanti, dan meminta PGI menghimbau umat menghadiri Natal tersebut.
Turut hadir dalam pertemuan tersebut adalah Dirjen Bimas Kristen Prof. Dr. Thomas Penturi, M.Si, dan Sekretaris Menteri Agama, Khoirul Huda Basyir, sedangkan PGI, selain Gomar Gultom, turut hadir juga Ari Moningka (Wakil Bendahara); Pdt. Jimmy Sormin (Departemen Kesaksian dan Keutuhan Ciptaan), Ronald Tapilatu (Biro Papua); dan Irma Riana Simanjuntak (Humas/Yakoma), Angel Sambow (Sekretariat), dan Markus Saragih (Media PGI). (DPT)
