
Musyawarah Nasional ke-6 Perwamki (Perkumpulan Wartawan Media Kristiani Indonesia), yang diawali dengan Ibadah Pembukaan dilayani oleh Pdt. Dr. Mulyadi Sulaeman dari PGPI, dan dibuka secara resmi pada Jumat 22 Maret 2019 di Rehobot Function Hall MAG Lt. 3 Jl. Artha Gading Jakarta Utara, oleh Sekretaris Jenderal Kementerian Kominfo Dra. Rosarita Niken Widiastuti, M.Si, mewakili Menteri Kominfo Rudiantara yang berhalangan hadir, telah usai dilaksanakan, dengan ditutupnya masa persidangan pada Sabtu (23 Maret 2019) malam bertempat di Villa Pondok REM kawasan Gunung Salak Bogor Jawa Barat, kemudian hari Minggu 24 Maret 2019 dilakukan Ibadah Penutupan dilayani oleh Pdt. Yesaya Suharsono dari PGLII.
Pada acara pembukaan Munas ke-6, Perwamki mengadakan dialog kebangsaan bertajuk “Partisipasi Konstituen Mengawal Caleg”, dengan narasumber Calon DPD DKI Jakarta nomer urur 44 Susana Suryani Sarumaha, Caleg DPR dari PSI dapil DKI 2 Mangasi Sihombing nomer urut 7, dan Caleg DPR dari PDIP dapil DKI 3 Sony Kusumo nomer urut 7.
Mangasi Sihombing tampil sebagai pemateri awal, mengatakan keinginannya menjadi Calon Anggota Legislatif (Caleg) dilandasi kegelisahannya terhadap peran DPR RI saat ini, yang menurutnya kurang maksimal dan banyak yang terjerat skandal korupsi dan skandal lainnya.
“Banyak RUU, bahkan yang telah masuk ke Prolegnas tidak mecapai target karena banyak yang bolos ngantor. Banyak yang tidak memberi teladan bahkan minim wawasan, contohnya tentang RUU Pendidikan Pesantren dimana Sekolah Minggu masuk di dalamnya, padahal sekolah minggu itu bukan dalam pengertian sekolah dalam arti yang sesungguhnya,” ungkap mantan Duta Besar ini.
Selain itu, ia ingin merubah paradigma politik dan bangsa dengan mengusung semangat ‘Anti Korupsi’ dan ‘Anti Intoleransi’.
Pembicara kedua, tampil Calon DPD Susana, mantan jurnalis, seorang Katolik Wakil Ketua Vox Poin, mengungkapkan keputusannya mencalonkan diri sebagai caleg DPD RI mewakili dapil DKI Jakarta setelah melalui pergumulan panjang.
“Saya berdoa kepada Tuhan dan meminta petunjuk dan tanda dari Nya selama 1 bulan. Saya imani, jika Tuhan berkehendak pasti jalan saya dimudahkan,” kata isteri seorang ASN dilingkungan Kemenag RI.
Diceritakan dia, melihat tidak ada warga kristen yang mau maju mencalonkan diri sebagai utusan daerah (DPD RI) Jakarta, ia memutuskan maju.
“Dalam suatu pertemuan saya ungkapkan kepada anak-anak muda untuk maju menjadi Caleg DPD RI dari Jakarta, karena saya melihat tidak ada orang kristen yang maju tetapi tidak ada anak muda yang berani malahan mereka mendorong saya yang maju,” ungkap Susana.
Ke depan dia mau, anak-anak muda kristen harus berani tampil, mau menjadi caleg DPD RI mewakili Jakarta.
“Tugas kita yang sudah senior mempersiapkan mereka, mendorong mereka untuk berani maju. Saya yakin banyak anak muda kristen yang berkualitas. Kita-kita yang sudah cukup umur berilah kesempatan, legowo kepada mereka, regenerasi harus berjalan” tegas Susana.
Pembicara berikutnya, Sony Kusumo mengungkapkan dirinya siap mundur dari panggung politik atau sebagai DPR RI bila melihat Indonesia, khususnya soal surplus ekonomi sudah baik (Trade Surplus).
“Saya ini berlatar belakang pedagang bukan pendidikan yang cara berpikirnya berbeda. Jika saya terpilih sebagai DPR RI, saya ingin merubah aturan atau UU dimana dengan UU itu membuat Indonesia akan mengalami surplus perdagangan ekonomi,” kata Caleg yang punya visi “Menuju Ekonomi Indonesia Mandiri” ini.
Menurut dia, Indonesia jangan mau dinina bobokan dengan pujian, khususnya dari World Bank, karena hal itu bisa membuat tidak sadar kalau kita dimanfaatkan mereka dengan berbagai persyaratan yang membuat mata uang kita terus melemah.
“Kalau mata uang kita kuat pasti ekonomi kuat, caranya? Jangan biarkan perputaran dan peredaran uang berada di luar, tetapi harus di dalam negeri. Ini khan bisnis di Indonesia tapi uangnya tersedot ke luar, perusahaan luar bayar pajaknya di luar. Nah kita harus buat regulasi (UU) yang membuat perputaran uang berada di dalam negeri, dengan demikian mata uang kita menguat,” jelas Soni.
Paparan dari ketiga narasumber tersebut, disambut antusias hadirin yang terdiri dari para wartawan yang tergabung di Perwamki, Mahasiswa STT, Pimpinan gereja dan Ormas Kristen. Paparan mereka menjadi bagian dari pembahasan persidangan Munas. (DPT)
