
Saat menjadi pejabat tinggi Bank Rabobank era 1990an, suatu capaian yang tidak mudah bagi seorang perempuan saat itu, Non Rawung justru melepas peluang dirinya mencapai karir lebih tinggi lagi.
Non Rawung melepas jabatan dan peluang tersebut, demi untuk mengikuti panggilan suara hatinya mengabdikan hidup melayani sesama.
Hati nurani Non Rawung, selalu terusik bila teringat bahwa tujuan keberadaannya di dunia ini bukanlah mengejar apa yang menurut ukuran dunia tampak baik, tapi lebih dari itu, dia mengejar apa yang kekal di surga, akhirnya pada tahun 1996, dia berhenti dari jabatannya tersebut, dan menetapkan hatinya untuk bekerja di bidang sosial.
Perjalanan hidup Non Rawung, banyak terlibat berbagai aksi kemanusiaan, menangani korban tsunami, gempa bumi, banir, gunung meletus, termasuk juga pelatihan tanggap darurat bencana, pemeriksaan kesehatan gratis, dan sejumlah aktitvitas filantropi lainnya.
Non Rawung, sebagaimana penjelasan Cornelius D. Ronowidjojo, rekan Non Rawung di GMKI Jakarta, disebutkan bahwa Non Rawung menjadi anggota GMKI Jakarta pada tahun 1964, dan suaminya pun almarhum Victor Rawung, juga anggota GMKI Jakarta.
Kiprah Non Rawung sebagai aktivis sosial kemanusiaan, bergerak melalui sejumlah yayasan, sebut saja Yayasan Cahaya Bagi Negri (CBN), Yayasan Obor Berkat Indonesia (OBI), dan Yayasan Karya Alpha Omega (KAO).
Non Rawung dalam kiprah kemanusiaannya, bersikap kepeduliannya kepada sesama haruslah menjadi hal yang ditularkan dari satu orang kepada orang lain.
Keterlibatan Non Rawung bersama OBI, membantu korban tsunami Aceh ditahun 2004, mendapatkan penghargaan Satya Lencana Kebaktian Sosial dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, karena upaya tanggap bencana di Aceh bersama OBI tersebut. Penghargaan tersebut, diterima langsung oleh Non Rawung.
Penghargaan lain yang diterima warga GPIB Tugu Jakarta Utara ini, ialah penghargaan "Hero of Change" dari Cahaya Bagi Negeri Indonesia pada tahun 2019.
Non Rawung pada Oktober 2007, menjadi salah satu dari 99 perempuan paling berpengaruh di Indonesia, "99 Most Powerful Women In Indonesia" versi majalah Globe Asia, selain Non Rawung, tokoh-tokoh perempuan Indonesia lainnya, seperti : Megawati Soekarnoputri, Sri Mulyani Indrawati, dan Kristiani Herawati Yudhoyono.
Kiprah kemanusiaan Non Rawung, tidak hanya di Indonesia, tetapi juga dilakukan disejumlah negara, sebut saja Kamboja, Pakistan, Filipina, dan Irak.
Non Rawung, sekalipun aktivitas yang padat, masih menyempatkan dirinya melayani Tuhan digereja, yakni pernah menjabat Ketua IV GPIB Tugu, dan aktif di Pelkes (Pelayanan dan Kesaksian), termasuk juga terlibat bakti sosial pada tahun 2012, sebagaimana kesaksian James Manahampi dalam WA grup Senior Friends Gerakan Pemuda GPIB. Selain itu, Non Rawung pun kerap diundang menyampaikan kesaksian, dan pelayanan firman Tuhan.
Non Rawung pernah melibatkan jurnalis kristiani, mengikuti pelatihan tanggap darurat bencana, agar tujuan diharapkan jurnalis dapat turut membantu mitigasi ataupun advokasi suatu kondisi darurat bencana, baik dalam jurnalis, maupun individu.
Pelatihan yang diadakan oleh Yayasan Karya Alpha Omega (KAO) pada tahun 2019, bertempat di Gedung Istana Kana Jakarta Pusat, diantaranya diikuti juga oleh beberapa jurnalis anggota Perwamki (Perkumpulan Wartawan Media Kristiani Indonesia).
Saat Indonesia mengalami darurat kesehatan karena wabah pandemi Covid-19, ternyata "Sang Pejuang Kemanusiaan" Non Rawung, berjuang melawan virus Covid-19 dalam tubuhnya.
"Sang Pejuang Kemanusiaan" Non Rawung, diusia 72 tahun, bertempat di RSUP Persahabatan Jakarta Timur, kemarin (16 April 2020) sekitar jam 2 siang, telah menghembuskan nafas terakhir.
Non Rawung telah menyelesaikan pertandingan imannya, dan kembali ke Allah Bapa di Sorga.
Sore harinya, diiringi puluhan tenaga medis dan staf RSUP Persahabatan dengan pakaian APD (Alat Perlindungan Diri), dengan isak tangis dan lambaian tangan perpisahan, jenazah Non Rawung dihantar masuk ke Ambulans jenazah, lalu langsung ke pemakaman di Taman Pemakaman San Diego Hills Karawang.
Gracia Veronica, putri Non Rawung, kini tidak lagi mempunyai orangtua dengan wafatnya Ibunda terkasih, kemarin menuliskan ungkapan dukanya pada laman FB nya :
"Hari ini jam 2 siang, Tuhan memanggil Mami pulang dengan DIA selamanya. Tuhan begitu baik kepada Mami sepanjang hidupnya dan bahkan sampai akhir Dia adalah setia. Tuhan telah menunjukkan begitu banyak mukjizat dalam pertempurannya melawan Covid-19 dan hari ini Tuhan memutuskan untuk mengambil pergi semua penyakitnya. Dia tidak kalah dalam pertempuran, hari ini dia menyelesaikan pertandingannya, dan Tuhan memanggilnya pulang, karena Tuhan sangat mengasihinya. Mami, selama sisa hidupku, aku akan merindukanmu. Tapi hari ini, saya memilih untuk bersukacita dan berkata Allah Baik!! Karena saya tahu betapa bahagianya Mami disurga sekarang. Tuhan kita yang agung, tidak pernah mengecewakan kita, dan hari ini, Mami senang dapat berpulang, segalanya sehat, berada dalam pelukan Tuhan Yesus. Aku sangat mencintaimu Mami, sampai kita berjumpa lagi. God is Good All The Time, and All The Time God is Good!! Terima kasih Yesus untuk kemurahanMu, dan kebaikanMu pada Mami selama ini."
"Menolong harus dibarengi keinginan menjadi sahabat bagi orang yang diberi bantuan. Menghargai orang yang dibantu sebagai individu yang berhak hidup, mendapat kesempatan belajar, hak dikasihi, dan mendapat yang terbaik. Menolong tak mengharapkan terima kasih, tetapi justru mendapat kehormatan karena bisa menolong orang lain. Kesenangan dari dalam diri harus ditanamkan sehingga menolong tidak lagi menjadi beban, tetapi sebuah kehormatan" quote Non Rawung. (DPT)
