Skip to content Skip to navigation

SEMINAR STT EKUMENE "CHRISTIAN WORLDVIEW FOR EDUCATION", DR ERASTUS SABDONO : KITA HARUS MEMPROFESORKAN DOKTOR TEOLOGI

Pdt. Dr. Erastus Sabdono seorang tokoh multitalenta, diantaranya sebagai akademisi, pendeta, teolog, dan juga seniman, belum lagi sebagai pengusaha, kini dipercaya menjadi pemimpin sinode gereja, yang diantaranya dia turut mendirikan. Sinode Gereja Suara Kebenaran Injil (disingkat GSKI) Rehobot, sebelumnya bernama GBI Rehobot/Rehobot Ministry, sinode yang didirikan pada 9 Oktober 2018, menjadi bagian dari organisasi aras gereja PGPI (Persekutuan Gereja-gereja Pentakosta Indonesia) pada 13 November 2018, dan mendapat pengakuan resmi dari Pemerintah melalui Dirjen Bimas Kristen Protestan pada 3 Desember 2018.
 
Kepemimpinan dan kepedulian Pdt Eras, demikian sapaan akrab pria yang membina Batak Bermazmur, terhadap pendidikan kristen dan pengaruh kristen bagi kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, tidak surut sekalipun kesibukannya kian bertambah dengan menjadi Ketua Sinode GSKI. Bahkan kini Pdt Eras dipercaya menjadi Chancellor STT Ekumene.
 
Dalam rangka membahas kekinian dari keberadaan sekolah teologi (STT), dan peran tanggung jawabnya terhadap upaya meninggikan derajat bangsa, STT Ekumene bekerjasama dengan PTAKI (Perkumpulan Teolog Agama Kristen Indonesia), mengadakan seminar bertajuk "Christian Worldview for Education". Seminar diadakan di Function Hall STT Ekumene MAG lt.3 Artha Gading Jakarta Utara, diadakan pada 13-14 Februari 2019, dengan narasumber Dr. Erastus Sabdono.
 
Hadir 100 an orang, diantaranya beberapa pewarta kristen dari Perwamki (Perkumpulan Wartawan Kristiani Indonesia), selain peserta akademisi, pengurus, dan mahasiswa STT diwilayah Jabodetabek, mengikuti paparan dan pembahasan seminar yang berjalan dari sore hingga malam kemarin, demikian dijelaskan Ketua Panitia Yusak Tanasyah kepada media disela-sela seminar. 
 
 
Kehadiran Perwamki dalam seminar tersebut, secara khusus dalam rangka sosialisasi rencana pelaksanaan Munas Perwamki kepada Pdt Eras, disamping menjalankan tugas peliputan kegiatan. Pdt Eras menyambut baik kehadiran Perwamki, dan siap mendukung pelaksanaan Munas Perwamki. Pada kesempatan pertemuan tersebut juga, Pdt Eras menyatakan kesediaan dirinya untuk menjadi Penasehat Perwamki, sebagaimana dimintakan oleh Ketua Umum Perwamki Yusak Tanasyah.
 
Pada saat menyampaikan paparannya, Pdt Eras mensharingkan lika-liku perjalanan panjang dirinya, jatuh bangunnya, yang dikatakan oleh Pdt Eras, dirinya banyak melakukan kesalahan dan perbuatan tidak menyenangkan banyak orang, setelah menyadari hal tersebut, dirinya melakukan banyak perbaikan, dan mengubah perilakunya. Dikisahkan, Pdt Eras memiliki pengalaman bekerja dalam lingkup STT, pernah menjadi Kepala Asrama, pengajar, Ketua, bahkan hingga menjadi Ketua Yayasan penyelenggara STT.
 
Pdt Eras mengulas realitas kekinian pendidikan kristen, khususnya pendidikan teologi, menurut dia, "Kita sebagai sekolah teologi, harus berpikiran bagaimana memprofesorkan para doktor kita, satu profesor dua doktor, satu doktor enam master" ujar Pdt Eras. Sekolah teologi yang menghasilkan sarjana teologi dan pendeta, harus mampu berperan nyata dalam mengangkat derajat bangsa, jangan justru menjadi bagian dari konflik teologi maupun perpecahan gereja, demikian harapan Pdt Eras merespon realitas tidak sedikit perpecahan dalam gereja dikarenakan adanya perbedaan teologi, ataupun konflik yang melibatkan pendeta/hamba Tuhan.
 
"Bila negara aja mampu membiayai orang me jadi tentara, maka kita pun harusnya mampu membeasiswakan calon-calon 'tentara' Allah, yang siap berjuang digarda terdepan penyebaran kebenaran firman Tuhan didaerah-daerah" tegas Pdt Eras mencermati banyaknya mahasiswa, ataupun calon mahasiswa yang mempunyai masalah keuangan dalam studinya.
 
 
Kegiatan yang dikoordinir oleh Yusak Tanasyah dari PTAKI, mendapat apresiasi dari peserta, selain memberikan pandangan baru dalam mengelola sekolah teologi. Pengamatan Gerejani Dot Com, saat kembali menghadiri seminar, hingga hari kedua seminar, jumlah peserta meningkat, bahkan ada yang berasal dari luar daerah, seperti Sulawesi Barat. Mereka mendapatkan sertifikat kepesertaan seminar, banyak diantara peserta bahkan hingga membeli buku-buku terkait pembahasan seminar. (DPT)
Share

Advertorial