
Kemunculan teknologi jaringan 5G, saat ini telah mengguncang dunia, pro-kontra pun merebak tentang asal mula dibalik kemunculan teknologi yang super cepat ini. Bahkan persoalan teknologi 5G ini, turut memicu konflik dagang Amerika Serikat dan China, sebagaimana dilansir sains.kompas.com pada 22 Mei 2019. Dikatakan, sebabnya konflik Amerika Serikat dengan China mengenai 5G dan siapa yang memilikinya, tidak hanya nilai ekonomi saja, tetapi juga mengenai supremasi militer negara yang memilikinya. Baik AS maupun China telah berinvestasi pada pengembangan 5G untuk kebutuhan militer.
Ternyata tidak hanya Amerika Serikat dan China yang gempar dengan penerapan teknologi tercanggih saat ini, tetapi juga Israel. Pemerintah Israel bersiap untuk menerbitkan tender pembangunan 5G. Dalam tender tersebut, pemerintahan Israel akan menawarkan insentif kepada pemenang tender sebesar 500 juta shekel atau setara Rp 1,9 Triliun. Informasi tersebut seperti dilaporkan oleh The Jerussalem Post, Selasa (16/7), sebagaimana dikutip dari merdeka.com 16 Juli 2019.
Operator seluler Israel yang ada akan dapat bersaing untuk tender dengan mengajukan proposal bersama untuk mengamankan bandwidth mulai dari 700 megahertz (MHz) dan 2.600 MHz yang ditawarkan oleh kementerian.
"Ini merupakan sebuah kemajuan teknologi yang nantinya akan meninggalkan jejak sampai dekade mendatang," ujar Menteri Komunikasi Israel David Amsalem.
Menariknya, teknologi jaringan seluler generasi kelima yang akan dibangun Israel, diklaim mampu berselancar dengan kecepatan sekitar 20 kali lebih cepat daripada jaringan 4G saat ini.
"Masuknya teknologi 5G baru ini akan memulai revolusi digital yang akan memengaruhi semua aspek kehidupan kita, seperti; rumah pintar, kota pintar, pengobatan pintar, membawa pinggiran lebih dekat ke pusat, pendidikan, kendaraan otonom, industri maju dan banyak lagi," tambahnya.
Selain itu, Kementerian Komunikasi Israel menjanjikan hibah senilai 200 juta shekel atau setara dengan Rp 784 miliar bagi operator yang membangun setidaknya 250 antena pemancar 5G.
Selain itu, sambil menunggu jaringan 5G diluncurkan awal tahun depan, pembayaran tender akan ditunda hingga 2022, untuk memberikan waktu yang cukup bagi operator untuk mengalihkan sumber daya finansial guna meningkatkan jaringan mereka.
Di sisi lain, pemerintah Israel memahami kondisi perusahaan seluler di negaranya. Berdasarkan data yang dimiliki pemerintah Israel pada awal bulan ini, pendapatan perusahaan seluler turun 5,6 persen pada 2018 setelah menderita penurunan 4,5 persen pada 2017. Penurunan pendapatan sebagian besar disebabkan oleh meningkatnya persaingan tarif antara perusahaan.
Sementara itu, sebagaimana diberitakan kompas.com 22 Mei 2019, dikatakan kekuatan 5G ada pada kecepatannya yang luar biasa, mencapai 20 gigabit per detik. Orang awam mungkin membayangkannya hanya sebagai waktu download yang jauh lebih singkat. Namun bagi para pakar, kecepatan itu menyimpan potensi yang jauh lebih besar, yaitu internet of things. Sederhananya, internet of things (IOT) akan memungkinkan komunikasi mesin ke mesin, di mana data dalam jumlah yang luar biasa besar bisa berpindah dari satu mesin ke mesin lain secara real time tanpa intervensi manusia. Para pakar, seperti peneliti AI dan telekomunikasi dari University of Electronic Science and Technology of China Dr Clark Shu, meyakini bahwa IOT yang didukung oleh 5G akan mengubah cara kita berperang. “Jaringan 5G dan internet of things memperbesar dan memperdalam kognisi situasi di medan perang hingga beberapa magnitudo dan memproduksi data raksasa, yang membutuhkan AI untuk menganalisisnya dan bahkan memberikan perintah,” ujarnya, seperti dilansir dari South China Morning Post (SCMP), 31 Januari 2019.
Indonesia pada saat perhelatan Asian Games ke-18 tahun 2018 lalu, melalui Telkomsel, telah memperkenalkan penggunaan teknologi 5G tersebut dalam mendukung pelaksanaan pesta olahraga masyarakat Asia tersebut. Sebagaimana dilansir liputan6.com pada 10 Agustus 2018, dikatakan Direktur Utama Telkomsel, Ririek Adriansyah, mengemukakan Telkomsel 5G Experience dibangun agar pengunjung Asian Games 2018 bisa mencicipi implementasi dari teknologi revolusioner tersebut.
“Mereka bisa merasakan langsung implementasi dari teknologi 5G lewat berbagai perangkat use case yang dilengkapi dengan 5G, seperti live streaming, Football 2020, future driving, cycling everywhere, dan bus otonomos,” kata Ririek kepada awak media di GBK.
Meski masih dalam tahap demo dan showcase, orang nomor satu di Telkomsel itu juga mengungkap implementasi teknologi 5G sudah mengantongi izin dari Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo), dengan spektrum khusus 5G yakni 2,8GHz.
Telkomsel memprediksi penerapan jaringan secara komersial tidak akan terjadi dalam dua hingga tiga tahun ke depan di Indonesia. Pasalnya hingga saat ini, pemerintah belum menerapkan regulasi untuk mendukung ekosistem 5G di Indonesia, demikian diberitakan cnnindonesia.com 23 Juni 2019.
Regulasi tersebut berisi standardisasi hingga alokasi spektrum untuk 5G. Media Relation Manager Telkomsel Singue Kilatmaka menjelaskan penerapan regulasi pemerintah akan mendorong kecepatan infrastruktur 5G. (DPT)
