Skip to content Skip to navigation

WILLEM FRANS ANSANAY : PUTRA TANAH PAPUA, SIAP MEMBANGUN PAPUA

Berbincang-bincang dengan seorang Willem Frans Ansanay, S.Th., SH., M.Si, sekalipun membahas banyak hal, tidak sekedar hanya mengenai kehidupannya sehari-hari, tetapi juga tentang pengalaman ataupun aktivitas kemasyarakatan, pendidikan, politik, kekristenan, bahkan hingga hal-hal kerohanian, tidak terasa membosankan. Pak Frans, demikian akrab disapa kalangan pewarta media kristen, putra Tanah Papua yang berwawasan luas, pembahasan maupun pemikirannya tidak mengesankan asal celoteh, tetapi mempunyai bobot dan berbasis fakta ataupun data.

Pak Frans yang juga aktivis tanah papua, terlibat dalam munculnya otonomi khusus Papua, berdasar kecintaan dan keprihatinannya terhadap realitas Tanah Papua, khususnya Papua Barat, dirinya kini dengan usungan Partai Perindo, sedang berjuang untuk menjadi anggota parlemen DPR RI dari daerah pemilihan Papua Barat.

Pada kesempatan berbincang-bincang dengan Pak Frans kemarin sore dikawasan Kelapa Gading Jakarta Utara, sekalipun dia mengatakan dirinya masih letih sepulang dari kampanye didapilnya, namun Pak Frans tetap bersedia berbincang-bincang dengan Gerejani Dot Com beserta beberapa pewarta media kristen lainnya.

“Saya ini mantan birokrat, mantan aktivis, juga politisi, kenal cukup banyak pejabat, baik itu pejabat sipil, TNI, maupun Polri, itu karena pertemanan yang terjalin cukup lama” ungkap Pak Frans menjelaskan tentang relasinya dengan sejumlah pejabat maupun tokoh nasional.

Ditambahkan kemudian oleh Pak Frans, bahwa dirinya sekarang ini adalah konsultan sejumlah perusahaan, dan karena itu dirinya mempunyai penghasilan yang cukup, bila tidak ingin disebut berpenghasilan besar. Untuk itu dirinya tidak segan-segan, sering membantu mereka yang membutuhkan.

“Saya ini juga lulusan STT (Sekolah Tinggi Teologi, red), dan saya mendirikan STT SETIA (sebutan untuk Sekolah Tinggi Teologi Injili Arastamar, red), bersama pengajar saya di STT dulunya, yang namanya Pdt. Matheus Mangentang, kami dirikan dan kelola STT SETIA, tapi saya sedih dan prihatin dengan kondisi STT SETIA saat ini” ungkapnya dengan nada kecewa saat dimintai pendapatnya tentang masalah yang menimpa sekolah teologinya tersebut.

“Saya oleh oknum tertentu dituduh ingin merebut atau mengambil alih aset, ataupun meminta uang dari sekolah teologi yang saya dirikan itu, saya tegaskan bahwa saya ini bahkan banyak keluar uang selama ini untuk sekolah tersebut, dan saya bukan orang gembel yang ngemis-ngemis, saya punya penghasilan yang cukuplah, saya hanya tidak ingin ada upaya penguasaan aset oleh oknum untuk kepentingan sendiri, saya inginnya, aset itu menjadi dalam naungan gereja, aset organisasi” ujar Pak Frans, bahkan untuk menunjukkan komitmen dan keseriusan pernyataannya, Pak Frans membuatkan pernyataan tertulis bermeterai yang pada intinya, pernyataan tersebut menandaskan Pak Frans tidak ada keinginan penguasaan aset ataupun keuangan untuk diri pribadi, dan bila hal tersebut tidak sesuai kenyataan, dirinya bersedia dan siap ditahan/dipenjara.

Kisruh yang menghinggapi sekolah teologinya tersebut, juga melanda gereja yang didirikannya, pun masih terkait dengan sekolah teologi dimaksud, yakni Gereja Kristen Setia Indonesia (GKSI). GKSI kini memiliki dua sinode, yakni antara Sinode dipimpin Pdt. Matheus Mangentang, dan Sinode dengan Ketua Umum Pdt. Marjiyo. Dikatakan Pak Frans, bahwa dirinya sebagai Majelis Tinggi Sinode GKSI telah mengupayakan agar tidak terjadi perpecahan, namun ternyata konflik tidak bisa terelakan, hingga kini Pak Frans dan Pdt Matheus pun berbeda posisi. Namun demikian, sedari awal sikap Pak Frans adalah mendorong penyatuan kembali Sinode GKSI, hingga upaya mediasi pun dimintakan kepada Persekutuan Gereja-gereja Indonesia, sebagai wadah naungan GKSI, akan tetapi setelah sekian lama, upaya penyatuan tidak jelas berakhirnya.

“Saya dari awal hingga saat ini, bahkan seterusnya inginnya GKSI itu bersatu, sehingga kami selalu mengikuti arahan PGI untuk hadir diberbagai forum mediasi, namun ternyata upaya itu kandas oleh karena pihak sana tidak serius, bahkan terkesan tidak ingin rekonsiliasi” ungkap Pak Frans.

Sebelum perbincangan dengan Pak Frans berakhir, ditanyakan tentang peluang Pak Frans sebagai Caleg dari dapil Papua Barat, dijelaskan Pak Frans bahwa kini ada semacam komitmen dari masyarakat didapilnya, mereka akan mendukung putra daerah untuk membangun daerahnya sendiri. “Saya sudah banyak berjumpa dan berdialog dengan masyarakat dapil saya, yah itu ada semacam keinginan mereka untuk mendukung putra daerah dalam membangun Papua Barat” pungkas Pak Frans. (DPT)

 

Share

Advertorial