Skip to content Skip to navigation

PRESIDEN JOKO WIDODO MENGHADIRI KGM PGI DI SULUT, KETUA PANITIA MENYATAKAN TIDAK ADA AGENDA KHUSUS PRESIDEN DATANG

Konferensi Gereja dan Masyarakat yang diadakan oleh Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia, berlangsung di Minahasa Utara Sulawesi Utara, dengan pelaksana KGM nya Sinode Am Gereja-gereja wilayah Sulutenggo (Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, dan Gorontalo), telah berakhir kemarin Minggu 31 Maret 2019.

Masih dalam rangkaian kegiatan KGM, Presiden RI Joko Widodo hadir bertemu dan berdialog dengan peserta KGM PGI 2019. Presiden Joko Widodo mendatangi KGM, kemarin malam waktu setempat, langsung setelah berkampanye di Makassar.

Presiden Joko Widodo bersilaturahmi dengan peserta KGM, dan tokoh agama se Sulawesi Utara pada hari Minggu, 31 Maret 2019 di Convention Center Hotel Sutan Raja Jalan Manado - Bitung Minahasa Utara,
dihadiri oleh 4000 peserta yang terdiri dari peserta KGM, tokoh-tokoh agama se Sulawesi Utara serta aparat pemerintah, demikian disampaikan Humas PGI Irma Simanjuntak kepada PERWAMKI.

Namun demikian, Kedatangan Presiden Joko Widodo ke KGM, disela-sela padatnya agenda kerja,
khususnya saat ini dalam momen kampanye pilpres, menurut
Ketua Panitia Acara Silaturahmi Presiden dengan Peserta KGM dan Pengurus PGI di Manado, Royke Oktavian Roring, menyatakan tidak ada alasan khusus untuk mengundang Jokowi di acara itu sebagai presiden, dikutip dari laman Tirto.id.

Catatan Gerejani Dot Com, berdasarkan info Humas PGI, pertemuan antara Presiden Joko Widodo dengan PGI, hingga acara KGM ini, merupakan pertemuan ke 4 sejak 2018.

Sementara dalam sambutannya Gubernur Sulawesi Utara Olly Dondokambey, mengucapakan terima kasih kepada Presiden Joko Widodo atas perhatiannya ke Sulawesi Utara. Pembangunan infrastruktur dan pengembangan wisata telah memajukan provinsi Sulut. Berharap besok akan meresmikan asrama mahasiswa IAIN dan UKIT Tomohon.

Dalam laporannya Ketua Umum MPH PGI Pdt. DR. Henriette T. Lebang,
mengucapkan selamat datang kepada Presiden RI dan terima kasih atas kesediaan menghadiri KGM.

Disebutkan Pdt Eri, demikian sapaan akrab Ketum MPH PGI, bahwa
KGM diadakan untuk menggumuli persoalan bangsa dan bagaimana gereja memahami kehadirannya dalam masyarakat majemuk. KGM membahas membahas 4 konteks pergumulan bangsa yaitu krisis kebangsaan, krisis ekologis, krisis keesaan gereja dan tantangan digital.Gereja harus mewujudnyatakan kehadirannya di Indonesia sebagai bagian dari bangsa Indonesia dalam merawat keutuhan bangsa berlandaskan Pancasila dan UUD 45.

Gereja harus berpihak kepada kelompok rentan, dan bersama pemerintah dan lintas iman, gereja harus berkolaborasi secara aktif, kritis dan realistis dan turut dalam menjaga keutuhan alam.

Dalam menghadapi revolusi industri 4.0 gereja perlu menyiapkan diri agar tidak gagap. Gereja dituntut memberdayakan umat, melakukan pendidikan politik untuk merespon politik identitas.

Hasil KGM akan dibahas dalam Sidang Raya PGI di Sumba pada bulan November 2019 yang akab datang dan berharap Pak Jokowi bisa hadir

Presiden Joko Widodo dalam sambutannya mengatakan bahwa bangsa Indonesia merupakan bangsa yang besar dengan penduduk ratusan juta penduduk.

Tuhan menciptakannya dengan berbagai keragaman. Kita bangsa besar dan harus bangga dan optimis mengelolanya, karena negara ini memerlukan tahapan besar untuk menjadi negara maju.

Lebih lanjut disebutkan bahwa perubahan dunia telah terjadi dan kita berada di revolusi industri 4.0. Semua negara negara gagap menghadapinya. Dampak revolusi 4.0 adalah 3000 kali lebih cepat dari revolusi industri pertama. Kita harus siap dan merespon secara cepat karena akan ada perubahan terhadap landskap politik, ekonomi, sosial dan budaya secara global. Kita harus sikapi tanpa kehilangan karakter diri sebagai bangsa Indonesia.

Teknologi telah muncul di depan, tetapi aturan regulasi belum ada. Keterbukaan informasi sudah sangat luas. Setiap individu sdh bisa membuat informasi apa saja bahkan tanpa kontrol.

Jemaat harus tanggap terhadap perubahan ini. Jangan sampai ikut dalam pusaran politik yang memecah belah bangsa melalui konten tak bertanggungjawab.

Lebih lanjut Pak Jokowi mengajak semua umat untuk menggunakan hak pilihnya pada Pemilu 17 April 2019. Pemilu ini membutuhkan biaya triliyunan dan Pemilu merupakan saat yang menentukan untuk arah negara yang kita cintai ini.

Acara diakhiri dengan Doa Penutup oleh Ketua Badan Pekerja Majelis Sinode GMIM Pdt. DR. Hein Arina. (DPT)

Share

Advertorial