Skip to content Skip to navigation

FILM "HORAS AMANG" KOLABORASI ARTIS-ARTIS BATAK, TAYANG DI BIOSKOP 26 SEPTEMBER 2019

Keberadaan Sukubangsa Batak, dengan berbagai dinamika kehidupan sosial budaya, dan alam pemandangannya, senantiasa menarik perhatian banyak pihak, tidak hanya dalam negeri, tetapi juga hingga masyarakat internasional.

Mengangkat kisah kehidupan bernuansa, ataupun berlatarbelakang dinamika kehidupan orang-orang Batak, pun tidak sedikit pihak yang melakukannya, baik itu pada media panggung teater maupun film layar lebar.

Rumah produksi Prama Gatra Film, bekerja sama dengan Rumah Semut Film, mengangkat salah satu kisah yang sukses dipentaskan secara teater pada tahun 2016, menjadi kisah film layar lebar, dengan judul "Horas Amang".

Film layar lebar "Horas Amang" yang diproduseri oleh Steve Wantania dari Prama Gatra Film, Eksekutif Produser Saulina Siregar, disutradarai oleh Irham Acho, diproduksi pada awal tahun 2019, membutuhkan waktu sekitar 20 hari, dan mengambil lokasi syuting selain di Jakarta, juga diperkampungan wilayah Tapanuli Sumatera Utara, menggunakan pemain asli orang Batak, sebut saja artis senior Cok Simbara, juara runner up ajang kompetisi X-Factor Novita Dewi Marpaung, penyanyi lagu-lagu Batak Rizma Simbolon, dan artis-artis lainnya.

Menurut Eksekutif Produser Saulina Siregar, jelang premier film Horas Amang pada 26 September 2019 nanti, kemarin (Jumat, 20 September 2019) dalam konferensi pers di Ully House Jl. H. Nawi, Gandaria Jakarta Selatan, menjelaskan film horas Amang memiliki pesan moral yang tinggi tentang keluraga.

"Film ini menceritakan bagaimana seorang bapak selalu merindukan agar anak-anaknya menjadi orang yang berprestasi dan berguna. Film ini saya dedikasikan kepada seluruh anak-anak dan siapapun yang merasa memiliki seorang Ayah khususnya orang Batak yang ada dimanapun juga," ujar Saulina.
Lebih lanjut Saulina menjelaskan bahwa, film ini bukan hanya sekadar menjadi tontonan, tetapi juga tuntunan kepada seluruh keluarga.

"Film ini sangat baik dan bisa menjadi tuntunan bagi semua keluarga apalagi dalam era seperti sekarang. Saya berharap semua orang bisa menonton ini," tambah Saulina.

Sementara salah seorang pemain, Rizma Simbolon mengungkapkan rasa suka citanya bisa terlibat dalam film ini. Menurut Rizma, film Horas Amang ceritanya sangat menyentuh, dan tantangan baginya karena harus bisa berperan sebagai orang rumahan.

Rizma mengungkapkan bahwa cerita film Horas Amang, mengangkat kehidupan orang batak yang anaknya lahir di Jakarta, sudah tidak ada rasa sense of belonging terhadap orang tua, dan terkadang mereka berlaku tidak baik.

Dijelaskan Rizma, "Fenomena ini banyak terjadi di kota besar, padahal dalam keluarga batak hubungan relasi dengan orang tua sangat penting".

Sementara itu, artis senior Cok Simbara, menjelaskan ketertarikannya terhadap film bergenre drama bernuansa komedia ini, karena film ini semua pemainnya adalah orang Batak.
"Semoga dengan adanya rekan media film ini bisa diketahui oleh publik, mendapat respons yang baik dan banyak yang menonton," ujar artis senior ini.

Berikut cukilan alur kisah film Horas Amang, yang pada 26 September 2019 akan resmi tayang diseluruh bioskop ditanah air.

Film ini menceritakan tentang sebuah keluarga Batak dengan seorang Amang (Ayah) dan ketiga anaknya dan penduduk Kampung Toba di pinggiran kota Jakarta.

Sang Amang (Cok Simbara) membesarkan ketiga anaknya (Tanta Ginting, Novita Dewi Marpaung, Dendi Tambunan),
hanya dibantu oleh adiknya yang seorang Janda (Elli Sofiani) beranak satu (Rizma Simbolon), dikarenakan istri sang Amang telah meninggal sewaktu anak-anaknya masih kecil.

Amang bekerja sangat keras agar anak-anaknya dapat bersekolah tinggi dan sukses dalam karir mereka. Namun setelah beranjak dewasa dan berhasil ketiga anak ini menjadi sombong, serakah dan hanya mementingkan diri sendiri.

Mereka lupa akan nilai-nilai keluarga Batak yang diajarkan oleh sang Amang dan lupa akan kebudayaan Batak yang menjunjung tinggi kehormatan dan kasih sayang.

Kelakuan ketiga anak muda ini selalu menyakitkan hati sang Amang, sampai suatu hari Amang memutuskan melakukan suatu tindakan yang akan merubah kehidupan anak-anaknya selamanya.

Dalam masa tiga bulan sang Amang berhasil mengubah kehidupan anak-anaknya menjadi manusia berguna yang mencintai Tuhan, menghargai orangtua, mengerti akan arti kebudayaan Batak yang luhur dan menjadi rendah hati dengan tidak mementingkan diri sendiri namun lebih mengutamakan orang lain.

Film "Horas Amang Tiga Bulan Untuk Selamanya" mengajarkan banyak hal dalam hidup ini sehingga menarik dan penting ditonton oleh seluruh keluarga Indonesia, terutama bagi orang Batak. (DPT)

Share

Advertorial