

Film "Horas Amang - Tiga Bulan Untuk Selamanya" produksi Prama Gatra Film, diproduseri Dr. Ir. Asye Berti Saulina br. Siregar, MA dan Dr. Jufriaman Saragih, MA, dengan Produser Pelaksana Steve R.R Wantania, Sutradara Irham Acho Bahtiar dan Steve R.R Wantania, dan penulis naskah Ibas Aragi dan Steve R.R Wantania, dan penata musik Ucok Radjagukguk, didukung Antara Digital Media dan Bank BNI.
Film yang mempertemukan pemain lintas generasi, dan mayoritas pemerannya orang Batak, yakni Cok Simbara, Tanta Ginting, Novita Dewi, Piet Pagau, Jack Marpaung, Rizma Simbolon, Dendi Tambunan, Vanessa, Indra Pacique, Elli Sofiana, Farrel Alfaro, Keysarah Flajsova, Manda Cello, Ibas Aragi, dan Jufriaman Saragih, berlokasi syuting di Jakarta dan kawasan Tapanuli, khususnya Danau Toba.
Kemarin (Senin, 23 September 2019) bertempat di Epicentrum XXI Kawasan Epicentrum Walk Kuningan Jakarta Selatan, dilakukan premier penanyangan film "Horas Amang - Tiga Bulan Untuk Selamanya". Studio berkapasitas 300 kursi, penuh diisi oleh berbagai macam latar belakang penonton, yang diundang hadir, seperti kalangan media pers, komunitas marga, sekolah/perguruan tinggi, organisasi kemasyarakatan, dan lain sebagainya. Penanyangan premier pun diadakan beberapa kali pertunjukan. Terlihat masyarakat yang hadir kemarin, tidak hanya komunitas anak muda, orang-orang tua, lansia, tetapi juga anak-anak, bahkan turut hadir Ketua Komnas Perlindungan Anak, Arist Merdeka Sirait dan istri.
Acara penanyangan premier makin meriah, dengan hadirnya sebagian besar pemain dan tim produksi film berdurasi lebih kurang 2 jam 45 menit. Banyak penonton film, setelah menyaksikan film, mereka berfoto bersama dengan para pemain, hadir pemeran Nauli, Pardamean, Parulian, Maruli, Tarida, dan yang lainnya.
Film yang mengisahkan kehidupan keluarga Amang Sagala (Cok Simbara), hidup menduda karena istri telah tiada, mempunyai 3 anak : Maruli, Tarida, dan Pardamean/Dame, mereka tinggal disuatu kampung yang didirikan oleh leluhur mereka, turut hidup bersama mereka Namboru (Ito Amang Sagala), dengan anak perempuan satu-satunya bernama Nauli. Ada sejumlah warga yang juga hidup disekitar tempat tinggal Keluarga Amang Sagala, seperti Gordon pengelola warung kelontong yang juga menjual minuman kopi, Parulian seorang pengacara, dan yang lainnya.
Kampung tersebut dikisahkan kehidupannya dalam kondisi sederhana, anak-anak Amang telah dewasa dan masing-masing sibuk dengan permasalahan diri dan pekerjaannya. Maruli sebagai anak tertua, seorang dokter spesialis kanker, berkarir bagus disebuah rumah sakit terkemuka, ambisius menjadi orang kaya, mendapat kesempatan menjadi pimpinan cabang RS tersebut, dengan syarat mau menikah dengan putri pemilik RS, tetapi pernikahannya tidak secara adat Batak, sedangkan anak nomer dua, Tarida, seorang karyawati, fokus hidupnya pada pekerjaan, sehingga tidak mempunyai jodoh, selalu ditanya kapan menikah, akhirnya dia mengemukakan bahwa dirinya tidak ingin menikah, karena fokus kerja, sementara anak bungsu Pardamean dipanggil Dame, seorang Chef yang selalu bermasalah dengan tempat bekerjanya, berpindah-pindah restoran, mempunyai hutang karena kebiasaan berjudi, dan mempunyai kisah saat kecil dengan Artha, seorang gadis dikampung sekitar Danau Toba.
Mereka bertiga, sebagai anak sangat menyusahkan Amang nya, tidak hanya secara kehidupan sehari-hari, tetapi juga relasi dengan adat istiadat dan tata krama keluarga. Konflik mencuat ketika Maruli akan menikahi Bertha putri bos RS tempat dirinya bekerja, Bapak William (Piet Pagau). Pernikahan dilakukan diatur sesuai kehendak Bapak William, dan Amang tidak diperkenankan melakukan pesta adat pernikahan, bahkan hanya boleh mengundang keluarga intinya saja, dan untuk itu mereka diberi dana pernikahan ratusan juta rupiah. Hal tersebut membuat kecewa Amang, sehingga setelah terjadi pertentangan pendapat Maruli dan Amang, dengan berat hati dan kecewa, Amang menghadiri pernikahan tersebut.
Konflik Maruli dengan Amang, ternyata terjadi lagi. Maruli berusaha mempengaruhi saudara-saudaranya untuk mendukung dirinya meyakinkan Amang, agar mau menjual Kampung Toba, dengan perhitungan nilai jual yang fantastis. Alih-alih demi kehidupan yang lebih baik bagi warga Kampung Toba, Maruli berhasil mempengaruhi Tarida dan Dame. Tetapi begitu mereka bertiga menyampaikan keingingan tersebut ke Amang, mereka marah ke Namboru atas sikap yang tidak menyetujui rencana menjual Kampung Toba, mereka bertiga membentak Namboru agar tidak ikut campur, dan sikap ketiga anaknya tersebut, sangat mengecewakan Amang, sehingga ketiga anaknya tersebut mendapat teguran keras dari Amang, dan mereka diminta menghormati dan meminta maaf ke Namboru yang telah membantu mengurus membesarkan mereka, tetapi mereka tidak mau menuruti permintaan Amang.
Artha gadis dari kampung, tiba-tiba datang ke rumah Amang, mencari Bang Dame, kedatangannya sontak mengejutkan Amang sekeluarga, karena Artha mengaku sebagai tunangan Dame. Dame yang mengetahui kedatangan Artha, menyangkal mengenal Artha, apalagi mengakui sebagai tunangan. Sekalipun Artha sudah menyampaikan kisah sejarah dibalik alasan kedatangannya, yakni saat mereka kecil, Dame pernah hampir tenggelam di Danau Toba, dan ditolong Artha, Dame pun mengucapkan "Janji Toba" bahwa suatu saat mereka harus bertemu kembali, dan dirinya akan menikahi Artha. Artha meskipun ditolak oleh Dame, tetapi dirinya berhasil menarik simpatik Amang dan Namboru, sehingga mereka mengijinkan Artha tinggal sementara waktu bersama mereka.
Kronik dan polemik kehidupan keluarga Amang, kian memuncah membuat Amang pusing, dirinya sering curhat kepada Parulian, teman main catur, dan minum kopi, seorang pemuda kampung Toba, yang sudah seperti anaknya sendiri.
Layaknya film pada umumnya, pemeran utama akan terus hadir hingga akhir film, tetapi tidak dengan "Horas Amang". Akhirnya dikisahkan, terungkap bahwa Amang menderita kanker stadium akhir. Maruli sebagai Dokter ahli kanker sangat terpukul, begitu mengetahui Amang mengidap kanker stadium akhir. Demikian juga dengan Tarida dan Dame. Dikatakan usia Amang hanya bertahan tiga bulan, dan sudah terlewati dua bulan. Sedihlah mereka kakak beradik tersebut, teringat bahwa oleh karena kesibukan, mereka pernah akhirnya membatalkan rencana makan malam bersama Amang merayakan ulang tahun Amang. Akhirnya dikisahkan, dalam keadaan sedang duduk, Amang meninggal dalam ketenangan.
Meninggalnya Amang, tidak berarti film berakhir, lalu bagaimana selanjutnya, apa yang terjadi dengan rencana penjualan Kampung Toba, dengan jodoh Tarida, bagaimana nasib Dame yang memiliki hutang judi, dan bagaimana nasib hubungan Artha gadis kampung dengan Dame?
Film "Horas Amang - Tiga Bulan Untuk Selamanya" dengan kemampuan akting yang mampu menghidupkan karakter tiap-tiap tokoh, sekalipun diantara pemain, ada yang baru kali pertama menjadi pemain film layar lebar. Tidak sedikit penonton, larut dalam kisah film, mereka pun tidak sedikit yang ikut menangis.
Film ini layak ditonton bersama keluarga, karena sarat nilai-nilai kekeluargaan, kekerabatan, kepedulian terhadap sesama, dan penghormatan terhadap adat istiadat sebagai mestinya.
"FIlm ini layak jadi tontonan secara nasional, perlu ditonton bersama keluarga, karena ada pesan penting yang ingin disampaikan, yakni kita harus mewaspadai kerapuhan keluarga oleh karena perkembangan jaman, dinamika kehidupan. Keluarga harus menjadi kokoh" demikian diungkap Arist Merdeka Sirait saat konferensi pers selesai menyaksikan premier film kemarin.
"Filmnya bagus ditonton untuk anak-anak muda milenial, dimana saat ini banyak anak-anak muda kurang memperhatikan orangtua mereka disaat sudah sukses dan sibuk dengan diri sendiri. Film ini mewakili kehidupan orang batak diperantauan dan endingnya sedih bikin nangis. Oh iya aku paling suka sama si Namboru, bagus kali merankan filmnya" demikian diungkapkan Midauli Sinaga, istri Waketum KADIN DKI Jakarta R.H Victor Aritonang, yang kemarin berkesempatan diundang menyaksikan penayangan premier film "Horas Amang - Tiga Bulan Untuk Selamanya". Sepertinya pendapat Midauli dapat menjadi mewakili opini banyak penonton yang juga hadir saat premier film kemarin.
Film "Horas Amang - Tiga Bulan Untuk Selamanya" akan tayang serentak diseluruh jaringan bioskop Studio XXI, CGV, dan Cineplexx se-Indonesia pada 26 September 2019. (DPT)
