

Tren gaya hidup bernuansa spiritual religi, bertajuk wisata rohani ataupun ziarah rohani ke tanah suci Yerusalem khususnya, atau akrab disebut holyland, telah menjadi bagian dinamika kehidupan sebagian komunitas kristiani tanah air yang terus berkembang.
Penyelenggara usaha perjalanan wisata yang mengelola program perjalanan wisata rohani/ziarah rohani kristiani, terus berkembang bertambah jumlahnya, dan juga tingkat partisipasi kunjungan komunitas kristiani mengikuti perjalanan wisata rohani/ziarah rohani pun, mempunyai tren meningkat, sekalipun tidak berarti tidak ada masalah dalam hal bisnis bernuansa religi ini.
PT. Zion Wisata Internasional (Zion Tour and Travel), perusahaan usaha wisata dan perjalanan yang relatif masih muda, berdiri April 2019, dan running bussiness pada Mei 2019, didirikan oleh seorang praktisi perhotelan, untuk mendukung memfasilitasi meningkatnya permintaan keikutsertaan masyarakat mengunjungi holyland, demikian disampaikan Joan Soriton kepada media-media kristiani diruang tunggu Bandara Soekarno-Hatta Terminal 3 Ultimate, saat sebelum memberangkatan grup yang akan ke holyland, untuk periode perjalanan kedua yang diberangkatkan Zion Tour and Travel di tahun 2019, yakni pada 25 Oktober 2019.
Zion Tour and Travel sudah memberangkatkan dua grup, yakni yang pertama pada 27 September 2019, saat itu lama wisata rohani 12 hari, lalu yang kedua 25 Oktober 2019 untuk masa waktu kunjungan 13 hari. Pada perjalanan pertama, grup didampingi oleh Pembimbing Rohani Pdt. Alexander Messakh, saat itu grup diikuti oleh 42 orang.
“Saat ini kami masih fokus untuk perjalanan ke Holyland. Kedepan nantinya akan ada destinasi lain seperti Turki, Eropa, Asia,” ungkap Marthinus mewakili manajemen Zion Tour and Travel di Terminal 3 Ultimate Bandara Soekarno-Hatta, pada Jumat kemarin (25 Oktober 2019), didampingi oleh Joan Soriton pendiri Zion Tour and Travel, Pinkan Ekkel Tour Leader grup, dan Pdt. Marcel Ekkel Pembimbing Rohani grup.
Sementara itu, perjalanan kedua kali ini, grup didampingi oleh Pembimbing Rohani Pdt. Marcel Ekkel, dengan jumlah peserta rombongan 30 orang.
Sementara itu, Joan Soriton pendiri perusahaan Zion Tour and Travel, menjelaskan bahwa diriya mendirikan Zion Tour and Travel untuk menjawab kebutuhan umat pergi ke Holyland. “Kita akan bekerjasama dengan para pendeta yang sudah berpengalaman ke Holyland, tetapi juga akan memberi kesempatan bagi para pendeta yang belum pernah ke Tanah Perjanjian untuk mendampingi grup yang berangkat sebagai Pembimbing Rohani. Kenapa? Karena saya rindu ingin mengajak para pendeta-pendeta untuk melihat tanah perjanjian,” ujar Joan.
Pemilihan nama Zion, menurut Joan bukan tanpa makna. Menurut Joan, nama Zion dipilih karena terinspirasi lagu rohani kesukaannya, yakni Zion by Clint Brown, selain itu juga, nama Zion bagi masyarakat Israel, bermakna bagus, yakni titik (tempat) kita manusia berjumpa Tuhan, maka itu ada tempat disebut Bukit Zion.
Beberapa keunggulan dari Zion Tour and Travel, berdasarkan kesimpulan penjelasan yang disampaikan oleh Marthinus, Joan, Pinkan, maupun Pdt. Marcel, selain komitmen dalam menjaga brand image positive, peserta grup tidak dalam jumlah besar agar dapat terlayani maksimal, mitra lokal yang memadai dalam menyediakan akomodasi dan dukungan perjalanan, juga ketersediaan asuransi perjalanan, agar peserta perjalanan tidak perlu risau ketika mengalami peristiwa yang membutuhkan perawatan, mereka tidak perlu mengeluarkan dana, hal tersebut nanti dicover asuransi. (DPT)
