
Gereja Injili Di Indonesia (GIDI) yang merupakan salah satu organisasi kegerejaan diwilayah Papua, sejak 9 November 2019 telah resmi masuk sebagai anggota Dewan Gereja Pasifik yang berpusat di Fiji, demikian diberitakan tabloidjubi.com.
Presiden GIDI, Pdt Dorman Wandikbo berterima kasih kepada GKI, yang menolong GIDI diterima menjadi anggota tetap Dewan Gereja Pasifik. Pdt Dorman juga mengungkapkan, bahwa GIDI bersepakat bergabung dalam Forum Gereja West Papua, yang kemudian tidak lama lagi dibentuk Dewan Gereja West Papua, lanjut Pdt Dorman sebagaimana diberitakan tabloidjubi.com.
Selain GIDI, yang lebih dulu sudah menjadi anggota Dewan Gereja Pasifik, ialah Gereja Baptis, dan GKI.
Willem Wandik, S.Sos anggota DPR RI asal daerah pemilihan Provinsi Papua, sebagai salah seorang jemaat GIDI, kepada Gerejani Dot Com, usai menjadi pembicara pada Diskusi Buku “Duka Dari Nduga” yang ditulis oleh Kristin Samah, di Gedung Kementerian Kominfo RI, pada 10 Desember 2019, menjelaskan tentang latar belakang bergabungnya GIDI dalam Dewan Gereja Pasifik.
“Mereka (GIDI) sudah buka pelayanan disana (dikawasan Pasifik), dan biasanya setiap ada kegiatan gereja di Indonesia, dari sebelah datang juga, Gereja-gereja Pasifik hadir, setiap ada kegiatan di Papua Nugini, ataupun Australia, dari Papua juga kesana. Menurut saya, ini dalam rangka meningkatkan pelayanan, kerjasama dalam pelayanan antar gereja. Ini juga bagian dari pemenuhan Amanat Agung Tuhan, penginjilan, yang sekarang masuk ke Pasifik. Disini (wilayah Indonesia) juga sudah masuk, ada ke Jawa Barat, Jawa Tengah, terus sampai ke Aceh, juga ke Afrika, Timur Tengah. Jadi gereja-gereja di Papua, ada kerjasama dengan yang disini, juga dengan gereja-gereja diluarnegeri, supaya meningkatkan kerjasama untuk mendukung misi penginjilan, penginjilan sedunia” jelas Willem yang juga Ketua Umum DPP GAMKI.
Lebih lanjut Willem mengemukakan relasi keanggotaan dalam Dewan Gereja Pasifik, dengan persoalan-persoalan yang melanda Papua. “Sejauh ini saya lihat, belum ada agenda pembahasan masalah-masalah yang terjadi di Tanah Papua dalam Dewan Gereja Pasifik. Tapi kalo ke depannya, kita lihat. Kalau ke depannya, persoalan-persoalan HAM seperti ini terus mengemuka, siapa tahu menjadi perhatian mereka” urai Willem yang sudah dua kali menjadi anggota DPR.
Diskusi Buku “Duka Dari Nduga”, yang diadakan kerjasama DPP GAMKI, Kementerian Kominfo, dan Gramedia, merupakan hasil penelitian Kristin Samah, seorang mantan jurnalis, langsung dari wilayah Nduga Papua. Selain penulis buku Kristin Samah, dan Willem Wandik, hadir sebagai pembicara Dirjen IKP Kementerian Kominfo Widodo Muktiyo, Kabag Produksi Kreatif Kombes Pol Gatot Refli Handoko, S.I.K mewakili Irjen. Pol. Drs. Martuani Sormin Siregar, M.Si batal hadir karena dilantik sebagai Kapolda Sumatera Utara, dipandu oleh Maman Suherman.
Buku ini mengisahkan tragedi kemanusiaan, yang terjadi terkait dengan pembangunan jalan proyek strategis nasional, pada perkembangannya menyebabkan terjadi eksodus besar-besaran warga Nduga meniggalkan kampung halaman, karena terjadi aksi penembakan pihak aparat keamanan Indonesia, dengan pihak yang disebut Kelompok Kriminal Bersenjata. Diskusi buku juga dihadiri oleh tokoh senior dan juga pendiri GAMKI, Amir L. Sirait, MBA, Sekretaris Umum LAI Sigit Triyono, generasi muda asal Papua, dan puluhan undangan lainnya. (DPT)
