Skip to content Skip to navigation

Hari Pendidikan Nasional : Qua vadis pendidikan nasional ?

Hari ini tanggal 2 Mei 2010, merupakan Hari Pendidikan Nasional, tetapi seperti yang sudah-sudah, peringatan Hari Pendidikan Nasional, tidak mendapat respon seperti halnya Hari Kartini, Hari Pemuda, Hari Kebangkitan Nasional, dan hari-hari besar nasional lainnya. Mengapa demikian?


Realitas pendidikan di Indonesia pada era reformasi ini, telah menjadi masalah tersendiri bagi bangsa Indonesia, tidak hanya bagi kalangan pembuat keputusan, seperti Pemerintah dan DPR, para pakar/pengamat, tetapi juga dan terutama para orangtua yang anaknya menjadi siswa didik.


Berbagai problema kerap mencuat mengiringi peraihan prestasi dibidang pendidikan, yang sebenarnya tidak dapat dipandang sepele. Tetapi sepertinya peraihan prestasi, seperti apa yang dikerjakan oleh Prof. Yohanes Surya, Ph.D dengan Tim Olimpiade Fisika Indonesia-nya, tidak mampu mendongkrak peningkatan kualitas pendidikan nasional.


Permasalahan yang belakangan mencuat dan menjadi perdebatan banyak kalangan, sebut saja seperti pemberlakuan sistem ujian akhir nasional atau ujian nasional, yang sering menimbulkan kontroversi siswa yang berprestasi akademik, bisa jadi tidak lulus hanya karena gagal mencapai angka kelulusan yang ditentukan pemerintah melalui sistem UAN/UN. Tidak jarang pula siswa berprestasi luar akademik, seperti juara olimpiade matematika/fisika/mata pelajaran lainnya, tidak mendapat akses peningkatan/pengembangan kemampuan akademiknya, seperti dapat berkuliah tanpa harus mengikuti sistem nasional ujian masuk perguruan tinggi.


Persoalan angka kelulusan dan tingkat kelulusan belum mendapatkan solusi yang tepat, belakangan mencuat permasalahan seputar pemberlakuan sekolah rintisan sekolah berstandar internasional (Sekolah RSBI) ataupun sekolah berstandar internasional (SBI). Persoalan biaya belajar yang luarbiasa mahalnya, ketidakjelasan kebijakan biaya tersebut, telah menjadi pembahasan banyak pihak, dan meminta pemerintah dapat mengevaluasinya.


Menyimak berbagai rupa masalah yang ada seputar dunia pendidikan nasional, sesungguhnya tidak terpisah dari pusat pengendali dunia pendidikan, yakni Kementerian Pendidikan Nasional. Kecenderungan dari jaman ke jaman, Kemendiknas atau dulu sering disebut Depdikbu,  hanya berurusan dan mengurusi yang namanya sekolah, entah itu namanya tentang kurikulum, kepangkatan, sertifikasi, honor, pengangkatan PNS, akreditasi, biaya pendidikan, sistem kelulusan, dan masih banyak lagi masalah lainnya. Bila demikian realitasnya, kenapa tidak diganti saja namanya menjadi kementerian sekolah? Bukankah urusan pendidikan jauh lebih luas, lebar, dan dalam dari sekedar urusan sekolah? Qua vadis pendidikan nasional kita.


Perlu bersama kita renungkan arah perjalanan dunia pendidikan kita dengan segala permasalahannya, dan cermati perkembangan dunia dengan globalisasinya yang semakin deras melanda negara manapun didunia ini, bagaimanakah kita harus menata pendidikan nasional kita? Selamat Hari Pendidikan Nasional. (DPT)

Advertorial