
Penyelenggaraan Simposium "Restorasi Indonesia" oleh Organisasi Kemasyarakatan Nasional Demokrat yang dipimpin oleh Surya Paloh, pada tanggal 1-2 Juni 2010 di Hotek Borobudur Jakarta, merupakan awal dari rangkaian kegiatan dalam rangka menggali dan menggagas pemikiran dalam rangka proses restorasi Indonesia.
Simposium akan dilanjutkan dengan rangkaian seminar dalam format 'road show' ke kampus-kampus terkemuka, dalam rangka membicarakan dan mempertajam hasil simposium ini, demikian disampaikan Siswono Yudhohusodo selaku Ketua Dewan Pertimbangan Nasional Ormas Nasional Demokrat, dalam konferensi pers saat rehat kopi.
Kampus-kampus yang akan disambangi oleh Tim Simposium 'Restorasi Indonesia' Ormas Nasional Demokrat, seperti STF Driyarkarya Jakarta, Univ Hasanuddin Makassar, Univ Cendana Kupang, Univ Lambung Mangkurat Banjarmasin, Univ Bung Hatta Padang, dan UIN Sunan Kalijaga.
Siswono menjelaskan tentang mengapa mengambil bentuk simposium, Nasional Demokrat belajar dari kegagalan Gerakan Reformasi '98 yang gagap, ketika angin perubahan mulai berhembus. Reformasi mampu menumbangkan kediktatoran, namun gagap ketika melakukan perbaikan kembali. Alih-alih perbaikan, reformasi justru menjadikan keadaan semakin runyam. Tidak politiknya, ekonominya, maupun budayanya, semuanya menjadi kebablasan. Tak jelas arah.
Gerakan 'Restorasi Indonesia' ingin mengembalikan arah perubahan yang terjadi, pada jalur yang semestinya, yang berbasis konstitusi, agar gerakan ini memiliki arah dan tidak terbata-bata menjalani perubahan yang terjadi
Puncak 'road show' akan dilakukan dalam bentuk seminar di Gedung Konferensi Asia Afrika Bandung pada tanggal 18 Agustus 2010. Tempat ini sengaja dipilih, karena nilai historis dan spirit yang terkandung dalam momen yang pernah tertoreh di gedung tersebut, pada tahun 1955 silam. Nasional Demokrat ingin bisa meresapi gerakan yang dilakukan oleh bangsa dan negara dari dua benua tersebut dalam upayanya meraih keadilan dan kemerdekaan. (DPT)