
Permasalahan bangsa yang kian runyam, oleh karena sepak terjang kaum elit, khususnya para politisi, bukannya semakin mengurangi masalah, justru tidak sekedar menambah masalah, tetapi semakin memburamkan perjalanan bangsa ini.
Proses perjalanan reformasi, yang nampak tidak semakin membuka jalan solutif bagi persoalan bangsa, telah mengusik nurani batiniah seorang Surya Paloh, untuk menggerakkan sejumlah elemen bangsa, putra-putri terbaik negri, untuk bersama rakyat berdialog membangun kesamaan pandangan, untuk kemudian membangun bersama potensi solutif atas persoalan bangsa.
Dalam rangka itulah, Surya Paloh selaku Ketua Umum Nasional Demokrat, dengan didukung segenap jajaran kepengurusan dan para pakar, maupun praktisi diberbagai bidang, menggagas suatu gerakan besar yang disebut "Restorasi Indonesia".
Penggarapan gagasan publik sekaligus proses awal sosialisasi gerakan "Restorasi Indonesia", telah dilakukan dalam bentuk Simposium Nasional, yang diselenggarakan pada 1-2 Juni 2010 di Hotel Borobudur Jakarta, kemarin.
Simposium yang menghadirkan sederetan pakar, praktisi, akademisi, anggota DPR, aktifis, bahkan hingga masyarakat awam, dari berbagai daerah dan latarbelakang usia yang berbeda, ribuan orang dengan bersemangat menghadiri simposium yang juga diisi dengan dua buah seminar nasional. dan komisi-komisi pembahasan yang merumuskan konsep/gagasan restorasi, untuk kemudian gagasan-gagasan tersebut akan diujisahihkan pada beberapa kampus terkemuka yang ada di tanah air. Simposium sebagai awal dari proses penggarapan gagasan "Restorasi Indonesia", akan berakhir pada puncak kegiatannya di Bandung 18 Agustus 2010, dengan mengadakan Pertemuan Nasional segenap elemen bangsa yang berada pada garis gerakan "Restorasi Indonesia".
Pada simposium yang baru lalu tersebut, Panitia Penyelenggara khusus meminta dua tokoh nasional menyampaikan orasi, dalam rangka penguatan penggarapan konsep restorasi. Mereka adalah Surya Paloh dan Jusuf Kalla.
Kebersamaan mereka sebagai tokoh nasional yang mempunyai kerinduan akan perbaikan negeri, tetap terjalin utuh sekalipun tidak lagi menjadi pimpinan partai. JK yang kini menjadi Ketua Umum Palang Merah Indonesia, dan Surya Paloh pemimpin organisasi kemasyarakatan.
Kebersamaan diantara kedua tokoh tersebut, teruji dan terbukti saat penyampaian orasi, meski pada waktu yang berbeda, garis besar penyampaian orasi mereka, justru saling menguatkan dan melengkapi.
Surya Paloh yang mendapat kesempatan awal pada pagi hari, menilai tentang pertentangan kondisi Indonesia pada masa lalu dan masa depan, hanya mempunyai satu solusi fundamental yakni "Restorasi Indonesia". Restorasi yang dimaksud oleh Bos Media Grup ini, adanya suatu gerakan perubahan untuk kembali kepada akar jatidiri sendiri, yakni Pancasila.
Sementara JK dalam arahannya, khusus menekankan bahwa demokrasi dan ideologi (nasional berarti ideologi, kebangsaan - demokrat berarti demokrasi, sistem/cara) adalah sebuah alat/cara untuk mencapai tujuan hidup berbangsa dan bernegara, dalam mencapai kemajuan, keadilan dan kemakmuran bagi seluruh rakyat Indonesia. JK menyatakan persetujuannya dengan gerakan "Restorasi Indonesia", dan menggarisbawahkan bahwa restorasi harus didukung dengan kepemimpinan yang kuat.
Orasi kedua tokoh nasional tersebut disambut gegap gempita oleh ribuan peserta simposium, yang seakan menandakan dukungan dan kepercayaan mereka kepada gagasan yang dilontarkan kedua tokoh tersbut, yakni restorasi dan kepemimpinan yang kuat. (DPT)