
Simposium Nasional bertajuk "Restorasi Indonesia" yang digelar oleh Nasional Demokrat, dengan ribuan peserta dari berbagai kalangan dan generasi, sudah berakhir hari Rabu yang lalu (2 Juni 2010).
Pertanyaan maupun pernyataan yang disampaikan peserta, termasuk juga pembicara seminar, banyak terarah kepada sikap Nasional Demokrat ke depannya. Apakah Nas Dem akan menjadi partai?
Surya Paloh sebagai penggagas sekaligus Ketua Umum Pengurus Pusat Nasional Demokrat, kepada Tim Gerejani disela-sela kesibukannya mengikuti simposium ketika itu, mengungkapkan banyak pemikirannya tidak hanya tentang pilihan Nas Dem menjadi partai atau tetap ormas, juga mengkritisi dinamika politik yang terjadi belakangan di negeri ini.
Menyangkut opini ataupun aspirasi publik terhadap keberadaan Nas Dem yang diharapkan menjadi partai politik, Surya Paloh yang juga adalah orang politik (mantan Ketua Dewan Penasehat DPP Partai Golkar), secara tegas dan lugas menyatakan bahwa tidak tertutup kemungkinan Nas Dem suatu saat menjadi partai, tetapi terpenting bagi Nas Dem saat ini, masih menurut Surya Paloh, adalah terus berbuat bagi masyarakat, jadi hingga saat ini pilihan Nas Dem tetap menjadi ormas. " Nas Dem ke depan akan melakukan konsolidasi dari waktu ke waktu, untuk bagaimana agar misi dan apa yang mampu diperankan oleh organisasi. Kami masih fokus sebagai organisasi kemasyarakatan, apa yang bisa diperbuat bagi masyarakat, jadi belum ada rencana untuk menjadi partai, masih terlalu jauh. Apa artinya ini kalau partai, ditengah-tengahnya sudah banyak partai. Kalau dia pastikan dirinya nomor satu, partainya nomor satu, baru dia berpikir. Probabiliti ada saja, kenapa tidak? Harus kita jalankan empati hati, rasionalitas, dan penegakkannya.Telah banyak hadir ditengah-tengah bangsa kita ini partai politik, dan kalian pun tahu saya orang dari partai politik, artinya kenapa Nasional Demokrat harus menambah lagi partai politik? " ungkap Surya Paloh bernada prihatin terhadap realitas politik bangsa ini.
Surya Paloh juga mengomentari tentang keberadaan Partai Golkar yang bergabung dalam Sekretariat Gabungan Partai Koalisi pendukung SBY, tetapi tidak dalam konteks kepentingan Partai Golkar, bagi pria kelahiran Aceh ini, tidak tepat lagi dirinya mengomentari kebijakan DPP Partai Golkar yang memutuskan bergabung dan membentuk Sekgab. " Hal-hal yang menyangkut Golkar, dalam mengambil berbagai kebijakannya, termasuk kebijakan merapatkan barisan dalam posisi sekretariat bersama, gabungan, itu sulit saya memberikan komentar, itulah komentar saya, karena dianggap subjektif. Jadi saya persilakan saja, para konstituen Partai Golkar untuk menilainya. Apa yang baik bagi elan perjuangan mereka ke depan, dan apa yang mereka rasakan tidak tepat, tentu mereka mempunyai mekanisme tersendiri untuk mengkoreksinya."
Mencermati agenda politik yang sedang bergulir saat ini dibanyak daerah, yakni pelaksanaan Pemilu Kepala Daerah-Wakil Kepala Daerah (Pemilukada), yang beberapa diantaranya membuahkan kerusuhan dan konflik horisontal, belum lagi semangat primordialisme (kesukuan) yang sengaja dicuatkan para pasangan calon pesrta pemilukada, ada yang dengan maksud menggambarkan persatuan-kesatuan, tetapi tidak sedikit juga yang terkesan menonjolkan/mengutamakan sukubangsanya, keprihatinan muncul dalam pendapat seorang pimpinan Media Grup, " Anda bisa melihat terdistorsi banyak perilaku sosial kita, yang sudah tidak lagi mampu menyeimbangkan, artinya bagaimana keseimbangan hak dan kewajiban warga negara kita, bagaimana dia bisa lebih melihat, dan mendahulukan kepentingan yang lebih besar, maka perilaku sosial yang seperti inilah, yang menjadi harapan kita ".
Mencoba menarik benang merah dari pendapat Surya Paloh terhadap wacana Nas Dem menjadi partai, eksistensi Sekretariat Gabungan Partai Koalisi yang dikhawatirkan mengganggu sistem demokrasi antara eksekutif dan legislatif, dan kekisruhan dalam pelaksanaan pemilukada yang semakin memperkuat sinyal bahwa nasionalisme diantara para elit politik mulai runtuh, sehingga mereka mengangkat nuansa primordialisme, yang nyata berbahaya bagi kebersamaan bangsa sebagai satu bumi pertiwi, dan jelas tidak sesuai dengan jatidiri bangsa, Pancasila, nampak suatu sikap kenegarawanan dan kebangsaan dari seorang Surya Paloh, dan semangat tidak mengejar kekuasaan, tetapi lebih terfokus kepada melayani rakyat demi terwujudnya kehidupan yang demokratis, adil, damai dan sejahtera. Sepertinya kita membutuhkan pemimpin seperti ini. (DPT)