
Indonesia sebagai negara yang memiliki lebih kurang 1072 etnik, jumlah ini jauh lebih besar dari yang pernah dimiliki negara Uni Sovyet yang telah bubar menjadi sejumlah negara, sehingga tidak heran bila Indonesia memiliki masalah terkait eksistensi kemajemukan penduduknya.
Pandangan tersebut disampaikan oleh Letjend TNI (Purn) Kiki Syahnakri, dalam Diskusi Megawati Institute bertajuk "Dinamika Pluralisme : Masihkah Ada Pluralisme di Indonesia?" siang tadi (21 Oktober 2010) di Jakarta.
Lebih lanjut Mantan Wakasad mengutarakan betapa Indonesia saat ini seperti dijajah oleh modal asing, realitas ini dia soroti dengan diberlakukannya UU No. 25 tahun 2007 tentang Penanaman Modal. "Perhatikan undang-undang tersebut, disana dimungkinkan modal asing mendapat hak mengelola usaha hingga 195 tahun, bahkan hanya dengan modal 95% sekalipun. Kita negara kaya tetapi rakyatnya miskin karena kekayaannya dikuras modal asing".
Menurut pria yang belakangan ini kerap menyuarakan keprihatinannya atas berbagai persoalan bangsa, salah satu permasalahan yang menonjol saat ini adalah kepemimpinan. Kepemimpinan saat ini tidak berwibawa, sehingga sering terjadi pembiaran. Pemimpin tidak jelas memberikan arah terhadap perjalanan bangsa ini. "Mau dibawa kemana negara?" demikian ungkapan keprihatinan Kiki. (DPT)