Skip to content Skip to navigation

Refleksi Akhir Tahun 2010 DPP PDS

Deni Tewu PDSPertama-tama saya mengajak kita semua untuk bersyukur atas penyertaan Tuhan bagi masing-masing kita sepanjang tahun 2010.

Kalau kita boleh ada sebagaimana kita ada sampai kita akan menutup tahun 2010,  itu bukan karena gagah perkasa kita, tetapi sepenuhnya atas kasih dan kemurahan Tuhan. Kalau pun kita dapat memasuki tahun 2011 dan menjalaninya, itu juga atas perkenaan Tuhan.

Demikian juga yang terjadi pada Partai Damai Sejahtera. Partai ini bisa tetap eksis sampai pada waktu ini, itu  juga karena turut campur tanganNya dan atas kehendakNya. Kita hanyalah saluran berkatNya untuk memulihkan dan memberkati bangsa ini. Dengan demikian jelas bagi kita bahwa kehadiran kita dan partai ini memiliki suatu tujuan yang harus kita capai dengan keyakinan bahwa kita layak dipakaiNya.

Tahun 2011 sesaat lagi akan kita jalani setelah kita melewati tahun 2010 yang penuh dengan gejolak dalam bangsa kita. Gejolak yang mencapai puncak pada ketidakpercayaan masayarakat terhadap elit politik dan pemerintahan. Sebagai partai yang terjun dalam panggung politik, PDS tidak dapat meniadakan kenyataan ini, bukan dengan keinginan untuk kekuasaan dan kepentingan pribadi semata, tetapi menjadikan gejolak ini sebagai acuan untuk berpikir dan bertindak agar gejolak tersebut dapat diredam.  Karena PDS hadir demi kedamaian dan kesejahteran bangsa dengan mendorong kebijakan-kebijakan yang berpihak pada rakyat.

Tahun 2010 kita melihat begitu riuhnya panggung perpolitikan kita. Berbagai kasus besar seperti kasus bank century hanya gegap gempita di tingkat parlemen, setelah itu kelanjutannya menyangkut entah di mana. Kasus Gayus dan lingkaran yang membelitnya juga hanya menjadi tontonan yang belum berakhir, dan kita juga tidak tahu apakah benar-benar akan berakhir atau tidak. Yang termasuk skandal besar juga adalah kasus IPO Krakatau Steel. Semua ini menunjukkan bahwa kasus korupsi belum dapat ditangani dengan serius, belum dapat ditangani dengan keberanian karena terlalu banyaknya tangan-tangan kuat yang bisa saja ikut bermain.

Di bidang ekonomi masih banyak kelemahan yang tercatat. Pengelolaan ekonomi tidak sejalan dengan komitmen konstitusi pasal 33 ayat 1. Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasarkan asas kekeluargaan, faktanya perkoperasian hingga saat ini hanya menjadi slogan dan dampaknya sama sekali – secara statistic – belum menjadi obat untuk mensejahterakan rakyat. Kita lihat ayat 2 dan 3 dalam pasal tersebut. Cabang-cabang produksi yang penting bagi Negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh Negara. Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Namun kenyataannya kenaikan TDL, privatisasi BUMN yang tidak transparan, pencabutan subsidi atas berbagai sumber energi yang berasal dari Sumber Daya Alam kita yang melimpah, pengelolaan BUMN apalagi BUMD jauh daripada komitmen mensejahterakan rakyat banyak. Semua ini menunjukkan  suatu keniscayaan pula bahwa kita dapat memenuhi target di tahun 2015 – sesuai kesepakatan Indonesia bersama 189 negara lainnya yang telah menandatangani deklarasi millennium -  untuk mencapai 8 buah sasaran pembangunan sesuai dalam Milenium Development Goals (MDGs) yaitu ; 1. Pengentasan kemiskinan dan kelaparan yang ekstrim, 2. Pemerataan Pendidikan Dasar, 3. Mendukung adanya persamaan gender dan pemberdayaan perempuan, 4. Mengurangi tingkat kematian anak, 5. Meningkatkan kesehatan ibu, 6. Perlawanan terhadap HIV/AIDS, malaria dan penyakit lainnya. 7. Menjamin daya dukung lingkungan hidup. Dan 8. Mengembangkan kemitraan global untuk pembangunan.

Kekerasan berbasis sentimen keagamaan pada tahun 2010 juga mencuatkan keprihatinan. Negara sepertinya tidak mampu memberi perlindungan dan rasa nyaman terhadap hak asasi warganya. Sebagaimana yang dilansir Aliansi Kebangsaan untuk Kerukunan Beragama (AKUR) yang menemukan, bahwa Jawa Barat menjadi salah satu lumbung terjadinya kekerasan berbasis agama dengan 117 kasus hingga pertengahan September 2010 yang lalu (termasuk kasus kekerasan di HKBP Ciketing, pembakaran masjid Ahmadiyah di Ciampea Bogor). Fakta ini menunjukkan peningkatan yang signifikan bila dibandingkan dengan angka kekerasan di Jawa Barat tahun 2009 yang berjumlah 114 kasus.

Berbicara kemajemukan bukan berarti  ketidak patuhan terhadap Perber 2 menteri. Tetapi pembiaran kekerasan yang terjadi adalah pertunjukan kekeliruan Negara mengelola kemajemukan. Dengan tidak serius membawa berbagai kekerasan pada jalur hukum menunjukkan Negara  memberikan ruang dan persepsi bagi masyarakat luas untuk melakukan kekerasan serupa.

Di tahun mendatang kita harus bersepakat mendorong agar kekerasan berbasis sentimen keagamaan ini tidak terulang. Untuk itu sangat diperlukan komunikasi yang lebih mendalam dan menggiatkan kerjasama kultural antar suku, antar agama, dan antar budaya yang ada di Indonesia sehingga dapat ditumbuhkan pemahaman untuk bisa saling lebih menghargai perbedaan dan diharapkan memunculkan keindahan dan keharmonisan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, sebagaimana yang dipertontonkan Timnas dan supporter Sepak Bola kita dengan kebanggaan nasionalisme Garuda di dadaku.

Runtunan bencana yang terjadi di Indonesia sepanjang tahun 2010 mulai dari tanah longsor di Wasior, gempa dan tsunami di Mentawai, letusan Gunung Merapi di Yogyakarta  dan termasuk juga banjir di Jakarta adalah bagian keprihatinan dalam bangsa ini. Belum lagi lumpur lapindo yang tidak kunjung dapat diselesaikan dengan baik. Bersyukur bahwa bangsa kita masih memiliki kesetiakawanan sosial yang tinggi, namun runtunan bencana ini seharusnya menjadi introspeksi bagi masing-masing kita sebagai anak bangsa. Apakah kita melihat bencana ini semata hanya peristiwa alam? Atau kita mampu menangkap isyarat dari Tuhan untuk kita bisa lebih menghargai alam, dan untuk kita bertobat dari seluruh jalan-jalan kita yang salah dihadapanNya dalam mengelola bangsa dan Negara ini?

Kita berharap gejolak yang terjadi di tahun 2010 tidak berlanjut di tahun 2011, setidaknya dapat kita minimalisasi. Caranya bukan hanya dengan berwacana, tetapi dengan niat yang kuat, dan kesungguhan untuk bertindak, kesungguhan untuk mewujudkan semua hal yang sudah diperkatakan, yang sudah didiskusikan, bahkan yang sudah diketukpalukan.

Banyak pekerjaan rumah bagi bangsa ini.  Tetapi kita harus memiliki kemampuan dan kemauan untuk melihat masalah yang menjadi prioritas untuk diselesaikan, jangan kita  menyelesaikan masalah setengah-setengah bahkan jangan membiarkan satu masalah menggurita. Kita akui memang tidak mudah menyelesaikan persoalan dalam bangsa ini, tetapi jika ada keyakinan untuk bisa menyelesaikannya pasti kita bisa.

Persoalan pemanasan global, pengiriman TKI, penyediaan lapangan kerja, perbaikan dan peningkatan kesehatan ibu dan anak, pencapaian pendidikan dasar adalah sebagian persoalan yang ada dalam masyarakat dan menjadi kebutuhan yang harus diproritaskan pemenuhannya. Bukan waktunya lagi pemerintah dan elit politik beranggapan ini bukan masalah serius. Ini masalah besar, dan serius, dan harus segera ditangani penyelesaiannya jika ingin melihat Indonesia lebih baik dari hari ini.
Perjuangan memang belum selesai untuk mengembalikan kejayaan bangsa ini sehingga menjadi bangsa yang dipuja-puja. Kehadiran Partai Damai Sejahtera akan ikut memperjuangkannya. Meski partai ini masih kecil di mata banyak orang, dan ironisnya tetap saja secara sistematis melalui berbagai UU Politik yang tidak konsisten suara kita ingin dibungkam secara paksa, namun dengan mengedepankan integritas dalam perjuangannya, bersama rakyat PDS pasti bisa menjadi besar demi rakyat.

Marilah kita memasuki tahun 2011 dengan keyakinan bahwa hari esok akan menjadi lebih baik dari hari ini. Semangat dan kerja keras harus terus dikobarkan. Selalu ada peluang bagi mereka yang pantang menyerah. Selamat tahun baru 2011. Tuhan beserta kita. (DPT)

(sumber :
www.pds.or.id
)

Advertorial