
Autis sebuah kata yang menjadi kekhawatiran banyak orangtua, sehubungan dengan keadaan anak mereka yang terlihat berperilaku tidak sebagaimana lazimnya anak-anak yang lain.
Autis dapat dimengerti sebagai kelainan perkembangan yang luas dan berat, dan mempengaruhi anak secara mendalam. Gangguan tersebut mencakup bidang interaksi sosial, komunikasi, dan perilaku.
Deteksi dini terhadap keberadaan autis pada anak, menurut Gayatri Pamoedji, SE, MHc (Ketua Masyarakat Peduli Autis Indonesia - MPATI) dapat dilakukan oleh orangtua, bahkan deteksi tersebut tidak terlalu sulit dengan adanya hasil riset Robins D dkk dalam "The Modified Checklist for Autism in Toodlers" dalam 'Journal of Autism and Development Disorders'. Riset tersebut mengemukakan adanya ceklis berupa 7 pertanyaan yang dapat membantu kita mendeteksi autis tersebut, demikian diberitakan oleh DetikHealth.
Deteksi dini melalui ceklis Robins ini dapat digunakan pada anak-anak berusia 18 bulan hingga 3 tahun. Ceklis tersebut adalah :
- Apakah anak Anda memiliki rasa tertarik pada anak-anak lain?
- Apakah anak Anda pernah menggunakan telunjuk untuk menunjukkan rasa tertariknya pada sesuatu?
- Apakah anak Anda menatap mata Anda lebih dari 1 atau 2 detik?
- Apakah anak Anda meniru Anda? Misalnya, bila Anda membuat raut wajah tertentu, apakah anak Anda menirunya?
- Apakah anak Anda memberi reaksi bila namanya dipanggil?
- Bila Anda menunjuk pada sebuah mainan di sisi lain ruangan, apakah anak Anda melihat pada mainan tersebut?
- Apakah anak Anda pernah bermain 'sandiwara' misalnya berpura-pura berbicara di telepon atau berpura-pura menyuapi boneka?
Bila ternyata minimal 2 pertanyaan dari ceklis tersebut, mendapat jawaban 'Tidak', maka seorang anak berpotensi menyandang autis. (DPT)