Skip to content Skip to navigation

Reformasi Gagal?

Dialog Reformasi GagalPeringatan 13 tahun reformasi dilakukan oleh Perkumpulan Senior GMKI, dengan menggelar dialog bertemakan "Reformasi Gagal?".

Dialog yang digelar di Galeri Cafe TIM Cikin-Jakarta Pusat, kemarin (26 Mei 2011) pukul 10.00 hingga 13.00 wib, menghadirkan narasumber Fadjroel Rachman (Aktivis Pedoman Indonesia), Hanif (Anggota DPR RI FPKB), Burhanuddin Muhtadi (Peneliti LSI), dan Rekson Silaban (Ketua Perkumpulan Senior, Aktivis Buruh).

Dialog dihadiri oleh puluhan civitas GMKI, undangan, dan pers, mengulas perjalanan reformasi yang sudah berusia 13 tahun, mengkritisi dan mencermati berbagai perubahan yang sudah terjadi maupun agenda reformasi yang masih harus dilaksanakan.

Publik tersentak dengan publikasi hasil riset Indo-Barometer beberapa waktu lalu, yang menyatakan bahwa masyarakat memilih mantan Presiden Soeharto adalah presiden yang dinilai paling baik, dan masa orde baru adalah masa yang paling baik. Publikasi hasil riset inilah yang mengejutkan banyak kalangan, termasuk Perkumpulan Senior, sehingga muncul suatu pemahaman bahwa seakan-akan reformasi gagal.

Berdasarkan uraian para nasasumber pada dialog kemarin siang (26 Mei 2011), Gerejani Dot Com menyimpulkan bahwa bisa jadi banyak masyarakat yang memilih Soeharto dan Orde Baru sebagai yang terbaik, hal tersebut mengingat belum maksimalnya pelaksanaan reformasi, khususnya terkait dengan dua isu besar, yakni kejahatan HAM dan tindak pidana korupsi.

" Kenapa publik dan parpol pascareformasi, tetap mendukung Soeharto? Karena tidak pernah dilakukan pengadilan terhadap dua kejahata massif dan terstruktur Jenderal Besar (Purn) Soeharto dan rezim otoriter Orde Baru, yaitu kejahatan korupsi dan pelanggaran HAM berat sepanjang 32 tahun." demikian ditegaskan oleh Fadjroel Rachman.

Sementara menurut Burhanuddin Muhtadi, rilis hasil riset Indo-Barometer tidak ada masalah secara teknis, metodologi, maupun penarikan sampel, tetapi hanya tidak tepat membandingkan sejumlah era pemerintahan, dengan melakukan riset pada rentang waktu yang sama.

"Dulu saat orde baru, banyak orang menyatakan merindukan suasana orde lama, dan tidak tertutup kemungkinan kelak, orang akan merindukan masa-masa reformasi" ungkap Burhanuddin.

Rekson Silaban selaku pejuang buruh menyatakan bahwa kurang tepat bila mengukur prestasi antar rezim pemerintahan, "Setiap rezim memiliki elemen keberhasilan sendiri yang berbeda dari rezim lainnya. Prestasi sebuah rezim tidak bisa digeneralisasi".

Kesimpulan yang didapat dari dialog kemarin siang tersebut, bahwa reformasi belum gagal secara total, hanya memang masih perlu banyak upaya untuk terus menjalankan amanat reformasi, khususnya penanganan tindak pidana korupsi dan kejahatan HAM. (DPT)

Advertorial